::..selamat datang di blog kecil ini, semoga setiap tulisan yang tersedia disini, bisa memberikan manfaat yang positif untuk kalian.. terimakasih atas kunjungannya..::


Tampilkan postingan dengan label Manajemen Qalbu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Qalbu. Tampilkan semua postingan

9.12.2011

Makna Cinta

Share


sudah lazim pandangan sebagian orang tua di zaman ini yang melarang seseorang untuk jatuh cinta.
menurut saya, melarang seseorang untuk jatuh cinta adalah pandangan yang sempit.
karena cinta adalah fitrah manusia, yang sudah di gariskan oleh Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa dan Islam sendiri memiliki pandangan yang komprehensif sendiri berkaitan dengan cinta.


Jenis pertama dari makna cinta yang diajarkan  Islam untuk mencintai Allah.
Cinta yang seperti ini yang menjadikan kita menghindari melakukan perbuatan dosa,
dan tidak melakukan apapun yang membuat Allah murka kepada kita.
Cinta seperti ini juga mendesak kita untuk merenungkan semua aspek yang berbeda dari alam yang biasanya membawa kita untuk memiliki iman yang lebih intim kepada Sang Maha Pencipta yang telah menciptakan segala keindahan di sekeliling kita.


Jenis kedua dari cinta adalah cinta kepada Nabi Muhammad (saw).
Cinta seperti ini juga membuat kita ikhlas mengikuti yang telah dicontohkan Nabi Muhammad (saw) dalam segala tindakan.
Cinta ini juga merupakan indikasi dari cinta kepada Allah yang dinyatakan dalam Alquran,
"Katakanlah: Jika memang kamu cinta kepada Allah, maka turutkanlah aku, niscaya cinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuniNya dosa-dosa kamu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi penyanyang."
"Katakanlah: hendaklah kamu taat kepada Allah dan Rasul. Tetapi jika kamu berpaling, maka sesungguh­nya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir."
(Al Qur'an, 3:31-32)


Jenis ketiga dari cinta adalah cinta terhadap sesama manusia.
Ini berarti bahwa Muslim harus mencintai sesama tanpa memandang latar belakang etnis, bahasa atau budaya.
jenis cinta Ini termasuk cinta kepada tetangga, rekan kerja, sahabat, kerabat dan bahkan orang asing.
Jenis cinta membujuk Muslim untuk membantu siapa pun dan kapan pun dia bisa. Ada berbagai hadits yang memerintahkan kaum Muslim untuk membantu siapa saja yang benar-benar membutuhkan bantuan.
karena sesama muslim adalah saudara, dan laksana sebuah jasad yang satu dalam kesatuan.
jika satu anggota badan kita tersakiti, maka anggota badan yang lainnya ikut pula merasakan sakit.

Jenis cinta yang keempat adalah cinta antara seorang pria dan seorang wanita,
tapi Islam mengatur perasaan-perasaan yang luhur ini dalam kerangka perkawinan, karena Islam memandang bahwa cinta dalam perkawinan mengarahkan pasangan untuk memiliki kehidupan keluarga yang damai dan bahagia, yang merupakan inti dari kehidupan masyarakat Muslim.


Dengan kata lain, cinta ini dapat diterima asalkan berada dalam kerangka perkawinan sebagaimana telah dimuat di sejumlah ayat dalam Alquran,
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.
(Al Qur'an, 30:21)

9.06.2011

Jangan Suka Mengutuk

Share
Jangan lupa membagikan artikel ini setelah membacanya




Segala puji hanya bagi Allah S.W.T.  semata. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada seseorang yang tidak ada nabi sesudahnya.
Adapun sesudah itu:
Tidak diragukan lagi, sesungguhnya di antara tujuan risalah Islam adalah membersihkan akhlak (budi pekerti), mensucikan jiwa, memurnikan perasaan, menyebarkan cinta dan kasih sayang, serta semangat tolong menolong dan rasa persaudaraan di antara kaum muslimin. Nabi S.A.W. bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ

'Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad dan ath-Thabrani.)
Ada penyakit besar yang tersebar di antara semua lapisan masyarakat dalam berbagai usia dan tingkatan pendidikannya. Penyakit besar yang anak kecil tumbuh atasnya, yang tua menaikinya, dan banyak disepelekan oleh para orang tua dan anak-anak, laki-laki dan perempuan, pemuda dan pemudi.  Penyakit besar yang terlahir darinya sifat dengki, bangkitnya sifat dendam, berhembuslah angin permusuhan dan kebencian disebabkannya.  Penyakit besar yang dimurkai oleh Rabb Azza Wa Jalla, mengeluarkan hamba dari catatan orang-orang shalih dan memasukkannya dalam golongan orang-orang durhaka yang fasik. Sesungguhnya ia adalah mencela, mengutuk (melaknat), perkataan kotor, lisan yang keji.  Maka engkau menemukan seorang ayah mencela anak-anaknya dan mengutuk mereka, dan ibu juga melakukan hal yang sama, sedangkan keduanya tidak menyadari bahwa hal itu termasuk dosa besar dan kesalahan yang fatal.
Dan engkau mendapatkan seorang teman mencela temannya sendiri, lalu ia menjawab atasnya dengan mencela ibu dan ayahnya. Sehingga seorang anak kecil, engkau mendapatkan dia mulai membiasakan mencela dan mengutuk orang lain. Terkadang ia melakukan hal itu kepada bapak dan ibunya, sedangkan keduanya memandang kepadanya dengan rasa senang dan gembira. Sesungguhnya wajib kepada setiap orang yang berakal agar selalu menjaga lisanya dan tidak membiasakan mencela dan mengutuk, sampai kepada pembantu dan anaknya yang masih kecil. Bahkan bersama apapun juga dari benda padat atau hewan. Maka sesungguhnya ia tidak akan aman apabila ia mencela seseorang manusia atau mengutuknya bahwa ia membalas seperti ucapannya, atau menambahinya, lalu bangkitlah kemarahannya dan menyeretnya kepada sesuatu yang tidak terpuji akibatnya. Berapa banyak tindakan kriminal yang terjadi yang bermula dari kutukan dan celaan, dan api besar berasal dari percikan api yang kecil.

Apabila ia mencela seorang manusia atau mengutuk seorang muslim, maka sungguh ia telah menyakitinya. Dan Allah Subhanahu Wa Ta'Ala berfirman:
والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا فقد احتملوا بهتاناً وإثماً مبينا
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min dan mu'minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. al-Ahzab:58)
Penyakit lisan:

Nabi S.A.W. bersabda:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

"Mencela seorang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah tindakan kufur."
(Muttafaqun 'alaih.)

An-Nawawi rahimahullah berkata: as-Sabb secara etimologi berarti: mencela dan berbicara tentang kehormatan manusia dengan sesuatu yang mencelanya. Dan al-Fisq secara bahasa berarti keluar, dan yang dimaksud dengannya dalam syari'at adalah keluar dari ketaatan. Maka mencela seorang muslim secara tidak benar adalah haram berdasarkan ijma' umat dan pelakunya adalah orang fasik, seperti yang dikabarkan oleh Nabi S.A.W.' (Syarh Muslim: 2/241).

Maka apakah orang-orang yang melepaskan lisan mereka karena mencela dan merobek kehormatan kaum muslimin membayangkan bahwa dengan hal itu mereka menjadi orang-orang fasik yang keluar dari taat kepada Allah S.W.T. dan rasul-Nya S.A.W.? Ketahuilah, hendaklah bertaqwa kepada Allah S.W.T. orang-orang yang melepaskan lisan mereka hingga mendatangi kebinasaan dan memetik kerugian. Nabi S.A.W. bersabda:

سِباَبُ الْمُسْلِمِ كَالْمُشْرِفِ عَلَى الْهَلَكََةِ

"Mencela seorang muslim adalah bagaikan orang yang mendatangi kebinasaan."
(HR. al-Bazzar dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani.)

Ancaman bagi orang yang memulai mencela:

Sesungguhnya orang yang memulia mencela, dialah yang memikul dosa sendirian, apabila orang yang dicela memaafkan atau membela diri sekadar kezalimannya dan hal itu tidak melewati kepada sesuatu yang dizalimi. Nabi S.A.W. bersabda:

اَلْمُسْتَبَّانِ مَا قَالاَ، فَعَلَى الْبَادِىِء مِنْهُمَا، مَالَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُوْمُ

"Doa orang yang mencela adalah menurut apa yang mereka ucapkan, maka dosa atas orang yang memulia dari keduanya, selama yang dizalimi tidak melewat batas." HR. Muslim.
Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan beberapa faedah sekitar hadits ini, di mana dia berkata:
  1. Maksudnya sesungguhnya dosa saling mencela yang terjadi di antara dua orang adalah khusus untuk yang memulai dari keduanya, kecuali orang kedua melewati batas atas dari sekadar membela diri, seperti ia mengatakan kepada yang memulia melebih apa yang dia ucapkan.
  2. Dan dalam hal ini boleh membela diri, dan tidak ada perbedaan tentang bolehnya dan sangat jelas dalil-dalil dari al-Qur`an dan sunnah. Firman Allah S.W.T.:
ولمن انتصر بعد ظلمه فأولئك ما عليهم من سبيل
Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka. (QS. asy-Syura:41)
Dan firman-Nya S.W.T.:
والذين إذا أصابهم البغي هم ينتصرون
Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. (QS. asy-Syura:39)
  1. Kendati demikian, sabar dan memaafkan lebih utama. Firman Allah S.W.T.:
ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور
Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS. asy-Syura:43)
Dan bagi hadits yang disebutkan setelah ini:
وما زاد الله عبداً بعفواً إلا عزى
"Dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak menambah kepada hamba sifat maaf kecuali kemuliaan."
  1. Dan ketahuilah, sesungguhnya mencela seorang muslim dengan cara yang tidak benar adalah haram, sebagaimana sabda Nabi S.A.W.:
سباب المسلم فسوق
"Mencela seorang muslim adalah fasik."

5. Yang dicela tidak boleh membela diri kecuali dengan semisalnya selama tidak bohong, atau menuduh berzinah, atau mencela pendahulunya. Di antara gambaran yang dibolehkan dalam membela diri adalah dengan kata (wahai orang yang zalim) (Wahai orang yang bodoh) (Wahai orang yang tidak bersendal), atau semisal yang demikian itu. Karena tidak ada seorang pun yang terlepas dari sifat-sifat ini.

6.  Mereka berkata:  apabila yang dicela membela diri, niscaya ia telah membalas kezalimannya dan terlepas yang pertama dari haqnya, dan tersisa atasnya dosa memulai, atau dosa kepada Allah S.W.T. (dari syarah Shahih al-Bukhari).

Dan apabila yang dicela membalas dengan tindakan melampaui batas niscaya dosa atas keduanya. Dari Iyadh bin Hamar r.a, ia berkata, 'Aku berkata, 'Wahai Nabiyallah, seseorang mencelaku, sedangkan dia di bawah aku, bolehkan aku membela diri darinya?' Nabi S.A.W. bersabda:

المستبان شيطانان يتهاتران، ويتكاذبان

"Dua orang yang saling mencela adalah syetan, saling bermusuhan dan berbohong."
(HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al-Albani.)


Di antara dosa-dosa besar:

Jauhilah –wahai saudaraku- bahwa engkau menjadi penyebab dalam mencela kedua orang tuamu maka jadilah engkau seperti mencela keduanya. Nabi S.A.W. bersabda:

إن من أكبر الكبائر أن يلعن الرجل والديه، قيل يارسول الله ! وكيف يلعن الرجل والديه؟ قال : (( يسب أبا الرجل فيسب أباه، ويسب أمه فيسب أمه))

"Di antara dosa besar adalah seseorang mengutuk kedua orang tuanya.' Ada yang bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang mencela kedua orang tuanya? Beliau bersabda, 'Dia mencela bapak seseorang lalu ia mencela bapaknya, dan ia mencela ibunya lalu ia mencela ibunya."
(HR. al-Bukhari.)

Dan sangat disayangkan bahwa hal itu banyak tersebar di antara anak-anak kaum muslimin dan para pelajarnya. Ini –demi Allah S.W.T.- membuktikan kemunduran dalam pendidikan dan kelalaian para wali yang tidak mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang keutamaan, akhlak yang baik dan perilaku yang indah. Ini merupakan ancaman  pada orang yang menjadi penyebab dalam mencela ayah dan ibunya, tanpa mencela keduanya secara langsung. Maka bagaimana kondisi orang yang mencela keduanya dengan dirinya sendiri secara langsung, maka ia mencela dan mengutuk keduanya, bahkan ada yang berani memukul keduanya,  tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah S.W.T.

Penyakit mengutuk:

Adapun mengutuk, maka sungguh terhadap ancaman keras dari Nabi S.A.W. Beliau S.A.W. bersabda:

لعن المؤمن كقتله

"Mencela seorang muslim adalah seperti membunuhnya." Muttafaqun 'alaih.

Renungkanlah wahai saudaraku besarnya dosa membunuh seorang mukmin dan beratnya dosanya, serta gambaran hukuman yang diberikan Allah I atasnya berupa siksaan, kutukan dan kemurkaan di dunia dan akhirat, niscaya engkau mengetahui dengan hal itu bahaya mengutuk dan terus menerus padanya. Firman Allah S.W.T.:
ومن يقتل مؤمناً متعمداً فجزاءوه جهنم خالداً فيها وغضب الله عليه ولعنه وأعد له عذاباً عظيماً
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannnya ialah jahannam, Kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. an-Nisaa`:93)
Ini adalah balasan pembunuh seorang mukmin yang Nabi S.A.W menyerupakan orang yang mengutuknya dengannya, maka dosa apakah ini? dan kesalahan apakah itu? Dan Nabi S.A.W menjelaskan bahwa seorang mukmin yang sempurna imannya tidak akan menjadi orang yang suka mengutuk. Nabi S.A.W bersabda:

لا يكون المؤمن لعاناً

"Seorang mukmin tidak menjadi orang yang suka mengutuk."
(HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani.)

Karena itulah Nabi S.A.W melarang tindakan saling mengutuk, beliau S.A.W bersabda:

لا تلاعنوا بلعنة الله، ولا بغضبه ولا بالنار

"Janganlah kamu saling mengutuk dengan kutukan Allah S.W.T, tidak pula dengan murka-Nya, dan tidak pula dengan api."
(HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi dan ia berkata: hasan shahih.)

Dan Nabi S.A.W mengabarkan turunnya kedudukan orang-orang yang suka mengutuk di hari kiamat, beliau  SA, bersabda:

لا يكون اللعانون شفعاء ولا شهداء يوم القيامة

"Orang-orang yang suka mengutuk tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi di hari kiamat." (HR. Muslim.)

An-Nawawi rahimahullah memberikan komentar tentang hadits ini: 'Dalam hadits ini merupakan ancaman mengutuk, dan sesungguhnya orang yang berperilaku dengannya, tidak adalah padanya sifat yang indah, karena mengutuk dalam doa dimaksudkan dengannya dijauhkan dari rahmat Allah S.W.T  Doa dengan ini bukan termasuk akhlak orang-orang beriman yang digambarkan oleh Allah I dengan sikap saling menyayangi di antara mereka dan tolong menolong di atas kebaikan dan taqwa, dan menjadikan mereka bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya, dan seperti satu jasab. Dan sesungguhnya seorang mukmin mencintai saudaranya apa-apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang mendoakan atas saudaranya yang muslim dengan kutukan –yaitu dijauhkan dari rahmat Allah S.W.T.- itulah puncak boikot dan saling membelakangi. (Syarh Shahih Muslim 16/364).

Dan Nabi S.A.W. berpesan kepada Jamudz al-Juhani ra, beliau S.A.W. bersabda:

أوصيك ألا تكون لعاناً

"Aku berpesan kepadamu bahwa janganlah engkau suka mengutuk."
(HR. ath-Thabrani dan dishahihkan oleh al-Albani.)
Dan Salamah bin Akwa'  berkata: 'Apabila kami melihat seseorang mengutuk saudaranya, kami melihat bahwa ia telah mendatangi satu pintu dari dosa besar."

Kemanakah perginya kutukan itu?

Apakah engkau mengetahui wahai orang yang suka mengutuk, sesungguhnya kutukanmu naik ke atas langit, lalu penghuni langit berlari darinya karena takut akan menimpa mereka? Apakah engkau mengetahui bahwa ia turun ke bumi setelah itu, lalu berlarianlah semua makhluk darinya karena takut akan menimpa mereka? Apakah engkau mengetahui bahwa ia pergi setelah itu ke kiri dan kanan hingga menemukan orang yang pantas mendapatkannya? Apakah engkau mengetahui bahwa ia kembali kepadamu apabila orang yang dikutuk tidak berhak mendapatkan kutukanmu?

Dari Abud Darda' , ia berkata, 'Rasulullah S.A.W. bersabda:
 "Sesungguhnya apabila seorang hamba mengutuk sesuatu, naiklah kutukan itu ke atas langit, lalu ditutup pintu-pintu langit karenanya. Kemudian turun ke bumi, lalu ditutup pintu-pintunya karenanya. Kemudian ia mengambil kanan dan kiri, maka jika ia tidak menemukan tampat, niscaya ia kembali kepada yang dikutuk, jika ia pantas menerimanya, dan jika tidak niscaya ia kembali kepada yang mengucapkannya."
 (HR. Abu Daud dan dinyatakan hasan lighairih oleh al-Albani.)

Maka karena apakah engkau memikul dosa besar ini atas dirimu –wahai saudaraku- dan kenapa engkau terus melakukan dosa besar ini? Dan kenapa engkau tidak membiasakan lisanmu dengan doa untuk putra-putrimu sebagai pengganti laknat dan kutukan untuk mereka? apakah engkau tidak merasa khawatir bahkan kutukanmu itu kembali kepadanya dan di saat waktu yang dikabulkannya doa, lalu engkau terusir dari rahmat Allah S.W.T., dan jadilah engkau termasuk orang yang dijauhkan lagi terusir? Apakah engkau tidak merasa takut bahwa engkau bertemu Allah S.W.T. dengan lisan  yang diulurkan pada kehormatan kaum muslim? Apakah engkau tidak merasa khawatir bahwa kebaikan dan keburukanmu dalam timbangan yang sama, lalu datanglah kutukanmu, maka timbangan keburukanmu menjadi lebih banyak lalu engkau masuk neraka karenanya?

Menutup lorong-lorong mengutuk:

Sesungguhnya sebagian manusia tidak selamat darinya sehingga benda padat dan hewan. Maka engkau melihat dia mencela, mengutuk, dan memukul segala sesuatu di sekitarnya. Karena itulah Nabi S.A.W. menutup segala celah yang membawa kepada mencela dan mengutuk. Beliau S.A.W. melarang mencela atau mengutuk segala sesuatu yang tidak pantas untuk dikutuk, sekalipun hewan atau benda padat. Dari Imran bin Hushain ra, ia berkata, 'Saat Rasulullah S.A.W. berada di salah satu perjalanannya, dan seorang wanita dari kaum Anshar berada di atas untanya, lalu ia membentak dan mengutuknya. Maka Rasulullah S.A.W. mendengar hal itu lalu bersabda:

خُذُوْا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوْهَا، فَإِنَّهَا مَلْعُوْنَةٌ

"Ambilah apa yang ada di atasnya dan tinggalkannya ia, maka sesungguhnya ia telah terkena kutukan." Imran ra berkata: Maka seolah-olah aku melihatnya sekarang berjalan di tengah-tengah manusia, tidak ada seorangpun yang menolehnya. (HR. Muslim.)

An-Nawawi rahimahullah berkata: Sesungguhnya beliau S.A.W. mengatakan hal itu sebagai bentakan untuknya dan selainnya, dan ia dan selain dia sudah pernah dilarang mengutuk, maka ia diberikan sangsi dengan melepaskan unta. Maksudnya adalah larangan  baginya menyertakan unta itu di dalam perjalanan. (Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi: 16/363. Dan Nabi S.A.W. bersabda:

لاَ تَسُبُّوا الدِّيْكَ فَإِنَّهُ يُوْقِظُ للِصَّلاَةِ

"Janganlah engkau mencela ayam jantan, maka sesungguhnya ia membangunkan untuk shalat."
(HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh al-Albani.)

Sesungguhnya keagungan Islam agar berhias dalam pengarahan tata krama yang tinggi ini, yang menjaga hak binatang secara jasmani dan maknawi, dan yang mengharamkan segala bentuk menyakiti dengan cara yang tidak benar. Andaikan para penyeru penyayang binatang mengetahui keutamaan Islam dalam masalah ini, dan andaikan mereka mengakui untuk Islam yang telah lebih dulu dalam bidang ini, yang mereka merasa bangga dengannya dan mengira bahwa mereka adalah orangnya. Dari Ibnu Umar ra, sesungguhnya seorang laki-laki mengutuk angin di sisi Rasulullah S.A.W., maka beliau S.A.W. bersabda:

لاَ تَلْعَنِ الرِّيْحَ فَإِنَّهَا مَأْمُوْرَةٌ، مَنْ لَعَنَ شَيْئاً لَيْسَ لَهُ بأهْلٍ، رَجََعتِ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ

"Janganlah engkau mengutuk angin, maka sesungguhnya dia melaksanakan perintah. Barangsiapa yang mengutuk sesuatu yang tidak pantas niscaya kutukan itu kembali kepadanya."
(HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani.)

Dan dari Jabir ra, sesungguhnya  Nabi S.A.W. berkunjung kepada Ummu Saib, lalu beliau S.A.W. bersabda: "Kenapa engkau mengeluarkan nafas panjang? Ia menjawab: Demam, semoga Allah S.W.T. tidak memberikan berkah padanya." Beliau S.A.W. bersabda:

لاَتَسُبِّي الْحُمَى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ الُخبث

"Janganlah engkau mencela demam, maka sesungguhnya ia menghilangkan kesalahan keturunan Adam A.S. sebagaimana ubupan (alat peniup api) tukang besi menghilangkan karat."
(HR. Muslim.)

Dari penjelasan terdahulu jelaslah bahwa Islam berusaha agar seorang mukmin bersih lisan, manis tutur kata, indah ucapan, tidak ada sesuatu yang menjelekkannya, dan tidak ada yang menodai kehormatannya.

Hukum mengutuk kepada seseorang secara khusus:

Tidak diragukan lagi, sesungguhnya seorang mukmin yang tertentu tidak boleh mengutuknya saat hidup dan matinya, berdasarkan dalil-dalil yang telah kami sebutkan sebagiannya. Adapun orang kafir secara tertentu, maka tidak boleh mengutuknya jika ia tidak mati di atas kekufuran, karena ia tidak tahu apakah kesudahannya nanti.
Tidak ada alasan mendoakan seseorang mati di atas kekafiran. Dan hal itu ditunjukkan oleh hadits Ibnu Umar ra, sesungguhnya Rasulullah S.A.W. berdoa di hari perang Uhud:  'Ya Allah, kutuklah Abu Sufyan, ya Allah kutuklah Harits bin Hisyam, ya Allah kutuklah Sahal bin Amr, ya Allah kutuklah Syafwan bin Umayyah." Lalu turunlah ayat:

ليس لك من الأمر شيء أو يتوب عليهم أو يعذبهم فإنهم ظالمون

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. (QS. ali Imran : 128) 

Maka Allah S.W.T. menerima taubat mereka. HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. Dan dalam riwayat al-Bukhari: 'Ya Allah, kutuklah fulan dan fulan." Maka apabila tidak boleh mengutuk orang kafir secara khusus yang belum mati di atas kekufuran, maka demikian pula tidak boleh mengutuk orang fasik secara khusus atau orang zalim secara khusus tentu lebih utama lagi. Namun boleh melakukan hal itu dengan menyebut sifat-sifat secara umum, seperti dikatakan: Semoga Allah S.W.T. mengutuk para pezina, atau terhadap para pembohong, dan semisal yang demikian itu. (lihat kitab: Akhlaqud diniyyah, karya Abdurrahman al-Jaziri, hal 111).

Nabi S.A.W. telah mengutuk beberapa golongan orang-orang yang durhaka tanpa menentukan, seperti orang yang bertato dan yang minta ditato, wanita yang menipiskan kening dan yang meminta hal itu, pemakan riba dan yang mewakilkannya, peminum arak, muhallil (yang menikahi wanita agar dia bisa kembali kepada mantan suaminya yang telah menceraikannya dengan talak tiga) dan muhallal lah (mantan suami wanita tersebut), dan selain mereka yang sangat banyak. Adapun orang yang diyakini wafatnya di atas kekufuran seperti Fir'aun, Abu Jahal dan selain keduanya maka boleh mengutuknya. Seorang muslim harus membersihkan lisannya dari mencela dan mengutuk kecuali apabila adalah kepentingan khusus.

Adab Salafus Shaleh:

Saudaraku yang tercinta, generasi salaf dari umat ini lebih bersemangat dari pada kita di atas kebaikan. Karena itu mereka sangat menjauhi mencela dan mengutuk, dan membersihkan lisan mereka dengan berzikir, bersyukur, berdoa, memuji, dan membaca kitabullah. Dan di antara yang diriwayatkan dari mereka dalam hal itu adalah:

1. az-Zuraiqan berkata: Aku berada di sisi Abu Wail, lalu aku mencela Hajjaj dan menyebutkan keburukannya. Maka Abu Wail berkata: 'Tahukah kamu, barangkali ia berkata: Ya Allah, ampunilah aku, lalu Dia S.W.T. mengampuninya.

2. Ashim bin Abi Najud berkata: Aku belum pernah mendengar Abu Wail saudara Ibnu Salamah mencela manusia dan tidak pula binatang.

3. al-Mutsannan bin Shabah berkata: selama empat puluh tahun Wahab bin Munabbih tidak pernah mencela sesuatu yang punya ruh.

4. Dari Salim, ia berkata: Ibnu Umar ra tidak pernah mencela pembantunya kecuali satu kali, lalu ia memerdekakannya. Janganlah engkau menjadi penolong syetan terhadap saudaramu.

5. Dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: 'Apabila engkau melihat saudaramu melakukan dosa, maka janganlah engkau menjadi penolong syetan atasnya. Kamu mengatakan: Ya Allah, hinakanlah dia, ya Allah kutuklah dia, akan tetapi mohonlah afiyah kepada Allah S.W.T.  Maka sesungguhnya kami para sahabat Muhammad S.A.W., kami tidak mengatakan sesuatu kepada seseorang sampai kami mengetahui bagaimana wafatnya. Maka jika ia ditutup dengan kebaikan, kami mengetahui bahwa ia telah mendapatkan kebaikan. Dan jika ia disudahi dengan keburukan niscaya kami merasa khawatir terhadap amal perbuatannya.

6. Diriwayatkan bahwa Abu Darda ra melewati orang yang melakukan dosa, maka mereka mencelanya, maka Abu Darda ra berkata kepada mereka: Bagaimana pendapatmu jika kamu menemukannya di dalam sumur, bukanlah kamu mengeluarkannya? Mereka menjawab: tentu. Ia berkata: Maka janganlah kamu mencela saudaramu, dan pujilah Allah S.W.T. yang telah menyelamatkanmu.' Mereka bertanya: Apakah engkau membecinya? Ia menjawab: Saya membenci perbuatannya, maka apabila ia meninggalkannya maka dia adalah saudara saya.'

Jika kaum muslimin melaksanakan muamalah dengan akhlak yang mulia ini, jiwa yang bersih, dan dada yang lapang niscaya berubahlah kondisi mereka dan besarlah pengaruh mereka pada diri mereka dan selain mereka dari non muslim. Ketahuilah, hendaklah kaum muslimin kembali kepada akhlak nubuwah dan adab kerasulan, agar kembali kemuliaan mereka kepada mereka, dan jadilah mereka umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, seperti para pendahulu mereka.


Semoga rahmat dan kesejahteraan Allah S.W.T.  selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad S.A.W., para keluarga dan sahabatnya ra.

Sumber : ILoveAllaah.com Indonesia

8.27.2011

Hindari sifat Ber-bangga diri

Share



Banyak di antara kita yang masih sering berbuat bukan karena Allah, tetapi penilaian makhluk, memper-Tuhan-kan manusia. Lebih sibuk tunduk dan patuh, sangat berharap, takut, penuh cinta, mengabdi sepenuh jiwa kepada selain Allah.

Dalam hal ucapan lisan misalnya, bila mengatakan hingga demikian yakinnya, tidak ada yang bisa selain saya, maka itu sudah jadi menuhankan dirinya. Patut kiranya kita berhati-hati jika menyatakan diri bisa atas sesuatu hal, wajib bagi dirinya menambahkan dengan perkataan ‘dengan ijin Allah saya bisa’.

Coba renungkan, jika kita harus mengandalkan hanya diri sendiri untuk mengurusi semua yang terkait dengan diri kita, sedangkan demikian banyaknya apa yang kita tidak ketahui dalam hidup ini: kita tidak tahu tentang jantung, usus, dan masih banyak lagi. Makanan yang tersaji di hadapan kita, seperti berasnya, lauk pauknya. Terbayangkah bagaimana dari awal proses hingga tersajikannya makanan itu... Lalu, mana yang lebih hebat, kita yang mengejar makanan atau makanan mengejar kita?

Bagaimana mungkin kita sok tahu menghadapi sesuatu yang tidak tahu, rejeki kita saja tidak tahu. Beruntung kita tidak diwajibkan Allah mengurusi atas apa yang kita tidak tahu itu yang menjadi kewenangan Allah, seperti detak jantung, aliran darah, dan sebagainya.

Merasa diri ini mampu adalah sebuah perbuatan ujub. Maka janganlah kita senang berbuat ujub yang menunjukkan kita mampu atau bisa berbuat sesuatu, “Laa haula wa la quwwata illa billah”. Benar ada beberapa kemampuan yang Allah berikan kepada kita, tetapi jangan menjadi keyakinan itu sesuatu yang menyelesaikan masalah. Kalau sampai yakin yang bisa menyelesaikan masalah dengan pengalaman kita, itu tidak benar. Tidak akan habisnya kebaikan bagi kita atas pertolongan Allah setiap saat.

Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu "MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH" (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.(QS Al Kahfi : 39-40)

Jangan sampai kita merasa sukses, tetapi ternyata hanya kehinaan yang terasa.

mari kita berdo'a memohon kepada Allah, agar Dia senantiasa menjaga hati kita dan pikiran kita untuk tidak menyekutukan-Nya.
aamien.

Narasumber ; K.H. Abdullaah Gymnastiar

Urgensi Waktu dah Muhasabah

Share



Al-Waqtu Huwa al-Hayâh


Ada sebuah kata hikmah yang singkat namun sarat terhadap makna hidup yang sangat luas dan mendalam, yang terdiri dari 3 (tiga) suku kata arab, namun sangat representative untuk menggambarkan arti pentingnya waktu bagi kehidupan manusia, yaitu ungkapan 'al-waqtu huwa al-hayâh (waktu adalah kehidupan)'. Sekali lagi, yaitu 'waktu adalah kehidupan.'

Yang dimaksud dengan kehidupan adalah, waktu yang dilalui manusia saat ia dilahirkan hingga ia wafat. Dengan definisi kehidupan seperti di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, seseorang yang membiarkan waktunya berlalu sia-sia, dan lenyap begitu saja, sama artinya ia –dengan sengaja atau tidak sengaja- telah melenyapkan sisa-sisa masa kehidupannya. Al-Hasan al-Bashri berkata,

يَا ابْنَ آدَم، إنَّمَا أنْتَ أيَّامٌ !، فَإذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

“Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah “kumpulan hari-hari”, maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.”
Sekali bahwa ketika kita menyia-nyiakan dan membuang waktu kita  tanpa hal yang berarti untuk agama dan kemaslahatan umat, maka ketika itu juga sesungguhnya kita telah membunuh diri kita sendiri. Betapa waktu itu sangat berharga dan jangan biarkan ia berlalu begitu saja.

Allah Subhanahu wa Ta'ala Bersumpah dengan Waktu dan Bagiannya

Begitu pentingnya waktu bagi kehidupan manusia, sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah di banyak tempat dalam al-Qur`an al-Karim, dengan waktu dan bagian-bagiannya, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَالْفَجْرِ، وَالضُّحَى، وَاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَالْعَصْرِ

Demi waktu fajar, Demi waktu Dhuha, Demi Malam, Demi Siang, Demi Waktu
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala, jika ia bersumpah dengan sesuatu, maka dengan sumpahnya itu, dengan sesuatu tersebut dimaksudkan untuk memalingkan atau mengalihkan pandangan kita kepada arti pentingnya hal tersebut sampai kita bertafakkur (berfikir) di dalam setiap  bagian waktu seluruhnya, ketika fajar, ketika dhuha, ketika malam, dan ketika siang dll.
Seperti Ulil Albab di dalam firman-Nya :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لأَيَاتٍ لأُوْلِي اْلأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَاخَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . سورة آل عمران : 191

Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. 3:190); (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. 3:191)



Intropeksi Diri

Maka sudah selazimnya menjadi kewajiban bagi seorang muslim terhadap dirinya untuk melakukan muhâsabah an-nafsi 'intropeksi diri', yaitu  menghitung-hitung dirinya atas tahun dan hari-hari yang telah ia lalui. Apa yang telah ia perbuat semasa itu, dan keuntungan apa yang peroleh, kerugian apa yang ia derita.
Seperti apa yang dilakukan oleh seorang bisnisman yang menginginkan kesuksesan dengan modalnya pada setiap tahunnya, ia menghitung-hitung kembali perdagangannya, berapa modal yang telah ia keluarkan, berapa pemasukannya, di mana ia mengalami kerugian dan apa masalahnya, dan di mana keuntungannya, berapa besar keuntungannya dari pada kerugiannya, ketika kerugiannya lebih besar dari pada keuntungannya maka ia menjadi sangat menyesal sekali dan mengalami kesedihan yang luar biasa, dan sebaiknya ketika keuntungannya lebih besar dari pada kerugiannya  maka ia merasa senang dan bergembira sekali, untuk selanjutnya  ia melakukan kalkulasi bisnisnya kembali, memenag dan membuat schedule untuk tahun berikutnya.

Yang demikian itu pada amrun dunyawi (urusan duniawi), begitu ihtimaam (concern)nya  dan sangat telitinya ia dalam urusan dunia ini. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلُُ وَاْلأَخِرَةُ خَيْرُُ لِّمَنِ اتَّقَى وَلاَ تُظْلَمُونَ فَتِيلاً { سورة النساء:  77 }

“Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan anda tidak akan dianiaya sedikitpun.”(QS. An-Nisaa:77)
Nabi Musa berkata di dalam al-Qur`an :

يَاقَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعُُ وَإِنَّ اْلأَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ { سورة المؤمن : 39}

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, sesungguhnya akhirat itulah kesenangan yang kekal.” (QS.40 : 39)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ {سورة النساء : 78}

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, (QS. 4:78)

Karena itu  muhasabatunnafsi merupakan suatu keharusan, seandainya tidak sanggup setiap hari untuk instropeksi/menghitungkan dirinya hendaklah dilakukan pada setiap pekan, maka kalaupun setiap pekan ia masih juga tak dapat melakukannya, maka hendaklah setiap bulan, dan kalau tidak bisa juga maka hendaklah ia melakukan instropeksi diri pada setiap tahun.


Ulama dan Waktu
 
Para salafus soleh meninggalkan banyak pelajaran berharga dalam menghargai waktu. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari (223H-310H) sepanjang hidupnya tercatat telah mengumpulkan 358 ribu halaman dari berbagai karangannya. Jika kita perkirakan masa kanak-kanak beliau sebelum baligh 14 tahun, maka dapat disimpulkan beliau menulis 14 halaman setiap harinya. Begitu perhatiannya beliau dengan waktu, sampai-sampai ketika + sejam sebelum kematiannya beliau masih menyempatkan diri menulis suatu do`a yang baru ia dengar dari Ja`far bin Muhammad. Begitu pula dengan Imam Ibnu al-Qayyim yang tidak rela kehilangan waktunya karena safar (suatu perjalanan), sehingga selama safarnya beliau mengisinya dengan menulis sehingga menghasilkan karya Zaadul Ma`aad. Imam Nawawi yang tidur dengan bersandarkan sebuah buku yang ditegakkan pada dagunya, begitu buku itu terjatuh maka beliau terjaga dan kembali menggoreskan tintanya.
Majduddin Abu al-Barakat `Abdussalam, kakek dari  Imam Ibnu Taimiyah, tiap kali masuk ke kakus, beliau memerintahkan anaknya (orang tua Imam Ibnu Taimiyah) untuk membacakan suatu kitab dengan suara keras, hingga terdengar olehnya. Tak aneh jika sikap sang kakek ini tertular kepada cucunya. Suatu ketika Imam Ibnu Taimiyah jatuh sakit, dokter menyarankan agar beliau untuk sementara waktu menghentikan dulu kegiatan belajar mengajarnya karena hal itu dikhawatirkan dapat memperparah kondisinya. Berkata Imam Ibnu Taimiyah kepada dokternya, "bukankah jika jiwa yang bahagia dan gembira dapat memperkuat daya tahan tubuh", sang dokter membenarkannya. "Maka sesungguhnya jiwaku merasa tenang jika berinteraksi dengan ilmu, dan tubuhku terasa kuat dan hanya dengan itu saya dapat beristirahat."


Optimalkan Amal

Waktu hidup manusia di dunia adalah umurnya, dan umur manusia merupakan rahasia Allah Subhanahu wa Ta'ala Kualitas umur seseorang sangat menentukan posisinya di alam kehidupan berikutnya. Jika dari waktunya diperuntukkan hanya karena Allah (lillah) maka kematiannya adalah baik baginya. Namun sebaliknya jika waktu dan umurnya dihabiskan untuk menuruti kesenangan nafsu dan dan ambisi syahwat hewaninya maka kematiannya merupakan petaka besar baginya. Al-Hasan al-Bashri berkata,

يَا ابْنَ آدَم، إنَّمَا أنْتَ أيَّامٌ !، فَإذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

“Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah “kumpulan hari-hari”, maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.”
Ibnu Mas`ud Radhiyallahu 'Anhu (salah seorang sahabat besar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam) berkata:

مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ نَدَمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ، نَقَصَ فِيْهِ أجَلِي، وَلَمْ يَزِد فِيْهِ عَمَلِي

"Tidak ada yang lebih aku sesali, kecuali bila matahari telah terbenam maka berkuranglah masa ajalku, namun tidak bertambah sedikitpun amalanku."
Berkata Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah,

إنَّ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ يَعْمَلاَنِ فِيْكَ، فَاعْمَلْ فِيْهِمَا

"Sesungguhnya malam dan siang terus bekerja dalam dirimu, maka bekarjalah di dalam siang dan malammu."

Bekerjalah pada siang dan malammu, janganlah mengakhirkan pekerjaan siang untuk dikerjakan di malam harinya, dan janganlah mengakhirkan pekerjaan malam ke siang harinya. Janganlah pekerjaan hari ini di akhirkankan hingga esok harinya dan janganlah pekerjaan esok karena malas diakhirkan hingga lusanya. Jangan katakan, "Nanti akan kuamalkan, sebentar lagi akan kukerjakan." Karena setiap manusia akan ditanya pada hari kiamat, mengenai umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang ilmunya sudahkah ia amalkan, dan tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa ia belanjakan ?. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ (رواه الترمذي وقَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ )

Tidak akan bergeser kedua kaki manusia pada hari Kimat hingga (ia) ditanya tentang:
  1. tentang umurnya, untuk apa ia habiskan ?
  2. tentang ilmunya, sudahkan ia amalkan ?
  3. tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa ia belanjakan ?
  4. tentang jasadnya, untuk apa ia gunakan ?
(HR. At-Tirmidzi)

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ . سورة العصر


Demi masa. (QS. 103:1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (QS. 103:2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. 103:3)


Sungguh terbukti kebenaran ucapan Imam Syafi`i mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

لَوْ لَمْ يُنْزَلْ غَيْر هَذِهِ السُّوْرَةُ لَكَفَتِ النَّاس

Bahwa seandainya (al-Qur`an) tidak diturunkan kecuali (hanya) surat (al-Ashr) ini, maka hal itu sudah cukup memadai bagi manusia sekalian.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik, hidayah dan keberkahan-Nya dalam hidup dan umur kita. Amiin.

Sumber : I Love Allah.com Indonesia

Muhasabah (Introspeksi Diri)

Share



Segala puji bagi Allah yang menjanjikan bagi orang yang mengintrospeksi dan mengekang dirinya dengan rasa aman di hari yang dijanjikan. Aku memuji-Nya, (Dia) Yang Maha Suci, Yang memuliakan wali-wali-Nya, dan menganugrahkan tambahan pada mereka di hari (itu).

Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, beliau adalah sebaik-baik penyeru ke jalan dan petunjuk yang lurus, Semoga shalawat, keberkahan dan salam tetap terlimpah pada beliau, keluarga serta para shahabat yang mereka adalah suri tauladan bagi manusia dalam muhasabah. Dengan memperingatkan dari hari yang amat hebat kegoncangannya. Begitupula para tabi'in yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari yang tidak mungkin menghindar darinya.

Wahai hamba-hamba Allah, aku mewasiatkan diriku dan anda untuk bertakwa pada Allah dan introspeksi diri. Karena dengan muhasabah, maka jiwa akan menjadi istiqamah, sempurna dan bahagia. Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" [Q.S Al-Hashr 59:18]


Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya: "Firman Allah وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ , maksudnya introspeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan perhatikan amalan sholeh yang telah kalian persiapkan untuk hari kemudian dan pertanggung jawaban di hadapan Allah.
Allah berfirman:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

"Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (Q.S Asy-Syams 7-10)


Imam Al-Badawy rahimahullah berkata dalam tafsirnya: "Al-Hasan berkata: Maknanya sungguh beruntunglah orang yang mensucikan, memperbaiki dan mengarahkan dirinya untuk taat pada Allah 'Azza Wa Jalla:

قَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا , maksudnya, membinasakannya, menyesatkannya dan mengarahkannya pada perbuatan maksiat.

Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah ^ bersabda: "Orang yang pandai adalah orang yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk setelah kematian, sedang orang yang lemah adalah orang yang jiwanya selalu tunduk pada nafsunya dan mengharap pada Allah dengan berbagai angan-angan" (H.R Ahmad dan Tirmidzi)

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Kitab Az-Zuhd dari Umar bin Khattab bahwa beliau berkata:  "Perhitungkanlah diri kalian sebelum kalian diperhitungkan, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena itu lebih memudahkan penghisaban bagi kalian kelak, Berhiaslah untuk menghadapi hari perhitungan
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ  : "Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)" (Q.S Al-Haaqqah: 18)


Ibnul Qayyim rahimahullah meriwayatkan dari Al-Hasan bahwa beliau berkata: "Seorang mukmin itu pandai mengendalikan dirinya, selalu menghisab dirinya di hadapan Allah. Penghisaban di Hari Kiamat itu akan menjadi ringan bagi mereka yang selalu memperhitungkan selama di dunia. Sebaliknya, akan terasa berat bagi orang yang tidak pernah memperhitungkan dirinya".

Berkata Wahab sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah: "Dalam hikmah keluarga  Daud tertulis: "Sudah selayaknya bagi orang yang berakal agar tidak lalai dari empat waktu:
- Saat bermunajat  pada Tuhannya
- Waktu mengintrospeksi diri
- Saat berkumpul bersama saudara (dan teman) yang memberitahukan tentang kekurangan dan keadaan dirinya  - dan waktu refreshing/santai dengan melakukan sesuatu yang halal lagi menyenangkan, karena pada saat tersebut akan mempermudah baginya melakukan waktu-waktu di atas dan sekaligus menjadi penghibur hati.

Berkata Maimun bin Mahran: "Seorang hamba tidak akan meraih derajat takwa sampai ia menghisab dirinya melebihi seseorang pada patnernya. Karena itu dikatakan: "Jiwa itu ibarat shahabat yang suka berkhianat, jika engkau tidak mengawasinya, maka ia akan membawa lari hartanya".

Umar bin Khattab menulis (surat) pada beberapa pejabatnya: "Perhitungkanlah dirimu di waktu senang sebelum datang perhitungan yang berat. Barangsiapa yang menghisab dirinya di waktu senang sebelum perhitungan yang berat, maka ia akan ridha dan mendapat keberuntungan. Sebaliknya, siapa yang kehidupannya melalaikannya dan nafsunya menyibukkannya, maka ia akan menyesal dan mendapat kerugian"   (H.R Baihaqi dalam Al- Wahd dan Ibnu 'Asakir)

Ibnul Jauzi meriwayatkan dalam (Kitab) Dzammul Hawa dari As-Sulamy berkata: Aku mendengar Abul Husain Al-Farisy berkata: Aku mendengar Abu Muhammad Al-Hariri berkata: "Barangsiapa yang dikuasai oleh jiwanya, maka ia akan berada dalam tawanan syahwat dan terkurung dalam penjara hawa nafsu.
Allah mengharamkan bagi hatinya untuk mendapat kemanfaatan, sehingga ia tidak dapat merasakan keindahan firman-Nya meski ia banyak membacanya. Berkata Syaikh Abdul Aziz As-Salman rahimahullah dalam kitabnya: Mawarid adz-Dzam-aan : "Jika ia sadar bahwa ia akan di tanya dalam perhitungan nanti tentang perkara sekecil biji sawi, di hari yang kadarnya adalah lima puluh ribu tahun, dimana di saat itu amat dibutuhkan berbagai kebaikan, dan ampunan dosa-dosa, maka nyatalah bahwa tidak akan selamat dari berbagai kesulitan kelak, melainkan dengan bergantung pada Allah, dan pertolongan-Nya untuk introspeksi diri, muraqabah, dan mengawasi jiwa dalam setiap gerak geriknya. Maka barangsiapa yang menghisab dirinya sebelum di hisab, akan menjadi ringan perhitungan dirinya di Hari Kiamat, akan ada jawaban di saat ia mengahadapi pertanyaan, dan akhir kesudahannya adalah kebaikan.

Wahai jiwa, bersiaplah dengan perbekalan yang engkau mampu
Wahai jiwa, sebelum (datangnya) kematian,  engkau tidak diciptakan dengan  sia-sia
Waspadalah dari terjatuh pada kehinaan dan merendah dirilah
Pintu Allah, berapa banyak Dia Memberi petunjuk dan memaafkan
Takutlah dengan berbagai gejolak kehidupan
Sadarlah, jangan menjadi seperti  orang yang terjatuh
Dalam jurang kehinaan …

Berkata Ibnu Qudamah dalam Minhaj Al-Qashidin: "Ketauhilah bahwa musuhmu yang paling berbahaya adalah jiwa yang berada dalam dirimu, ia memiliki nafsu ammarah bissuu', condong pada kejahatan. Engkau diperintahkan untuk meluruskan, membersihkan, dan memutusnya dari berbagai pengaruh negatif serta mengarahkannya dengan rantai kekuatan untuk beribadah pada Tuhannya. Jika engkau menyepelekannya, maka ia akan terlepas tanpa kendali dan engkau tidak mendapat keberuntungan setelah itu. Kalau engkau senantiasa mengingatkannya maka kami mengharapkan jiwa tersebut akan menjadi tenang. Karena itu jangan engkau lalai untuk mengingatkannya".
  • Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, bahwa muhasabah itu ada beberapa macam:

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: Muhasabah ada dua macam, sebelum beramal dan sesudahnya.

* Jenis yang pertama: Sebelum beramal, yaitu dengan berfikir sejenak ketika hendak berbuat sesuatu, dan jangan langsung mengerjakan sampai nyata baginya kemaslahatan untuk melakukan atau tidaknya. Al-Hasan berkata: "Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berdiam sejenak ketika terdetik dalam fikirannya suatu hal, jika itu adalah amalan ketaatan pada Allah, maka ia melakukannya, sebaliknya jika bukan, maka ia tinggalkan".

* Jenis yang kedua: Introspeksi diri setelah melakukan perbuatan. Ini ada tiga jenis:
1. Mengintrospeksi ketaatan berkaitan dengan hak Allah yang belum sepenuhnya ia lakukan,
lalu ia juga muhasabah, apakah ia sudah melakukan ketaatan pada Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya atau belum ?
2. Introspeksi diri terhadap setiap perbuatan yang mana meninggalkannya adalah lebih baik dari melakukannya.
3. Introspeksi diri tentang perkara yang mubah atau sudah menjadi kebiasaan, mengapa mesti ia lakukan? Apakah ia mengharapkan Wajah Allah dan negeri akherat? Sehingga (dengan demikian) ia akan beruntung, atau ia ingin dunia yang fana? Sehingga iapun merugi dan tidak mendapat keberuntungan.
  • Muhasabah memiliki dampak positif dan manfaat yang luar biasa, antara lain:

  1. Mengetahui aib sendiri. Barangsiapa yang tidak memeriksa aib dirinya, maka ia tidak akan mungkin menghilangkannya.
  1. Dengan bermuhasabah, seseorang akan kritis pada dirinya dalam menunaikan hak Allah. Demikianlah keadaan kaum salaf, mereka mencela diri mereka dalam menunaikan hak Allah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Darda y bahwa beliau berkata: "Seseorang itu tidak dikatakan faqih dengan sebenar-benarnya sampai ia menegur manusia dalam hal hak Allah, lalu ia gigih mengoreksi dirinya.
Berkata Muhammad bin Wasi' rahimahullah dengan nada merendah diri, padahal beliau adalah seorang ahli ibadah: "Seandainya dosa berbau, tentu tidak ada yang betah duduk bersamaku"

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Mencela diri dalam Dzat Allah adalah termasuk sifat shiddiqin (orang-orang yang benar), seorang hamba akan dekat dengan Allah Ta'ala dalam sekejap, berlipat-lipat melebihi dekatnya melalui amalnya".

Berkata Abu Bakar As-Shiddiq : "Barangsiapa yang mencela dirinya berkaitan dengan hak Allah (terhadap dirinya), maka Allah akan memberinya keamanan dari murka-Nya"
  1. Diantara buah dari muhasabah adalah membantu jiwa untuk muraqabah. Kalau ia bersungguh-sungguh melakukannya di masa hidupnya, maka ia akan beristirahat di masa kematiannya. Apabila ia mengekang dirinya dan menghisabnya sekarang, maka ia akan istirahat kelak di saat kedahsyatan hari penghisaban.
  1. Diantara buahnya adalah akan terbuka bagi seseorang pintu kehinaan dan ketundukan di hadapan Allah.
5. Manfaat paling besar yang akan diperoleh adalah keberuntungan masuk dan menempati Surga Firdaus serta memandang Wajah Rabb Yang Mulia lagi Maha Suci. Sebaliknya jika ia menyia-nyiakannya maka ia akan merugi dan masuk ke neraka, serta terhalang dari (melihat) Allah dan terbakar dalam adzab yang pedih.
Tidak mengintrospeksi diri dan menyia-nyiakannya akan membawa kerugian yang besar.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: "Yang paling berbahaya adalah sikap  tidak mengindahkan, tidak mau muhasabah, dan menggampangkan urusan, karena ini akan menyampaikan pada kebinasaan. Demikianlah keadaan orang-orang yang tertipu, ia menutup matanya dari akibat (perbuatan) dan hanya mengandalkan ampunan, sehingga ia tidak mengintrospeksi dirinya dan memikirkan kesudahannya. Jika ia melakukan hal ini, akan mudah baginya untuk terjerumus dalam dosa dan ia akan senang melakukannya, serta berat untuk meninggalkannya. Seandainya ia berakal, tentulah ia sadar bahwa mencegah itu lebih mudah ketimbang  berhenti dan meninggalkan kebiasaan.

Jika engkau selalu menuruti nafsu dalam setiap kelezatan
Engkau akan lupa ….
Jika engkau senantiasa memenuhi seruan hawa nafsu
Ia akan menyeretmu pada perbuatan buruk dan haram


Maka bertakwalah pada Allah wahai hamba Allah, introspeksilah dirimu, karena baik dan selamatnya hati adalah dengan muhasabah, sebaliknya rusaknya adalah dengan sebab tidak mengindahkan dan bergelimang dalam kelezatan nafsu serta syahwat serta mengenyampingkan perkara yang bisa menyempurnakannya. Maka berhati-hatilah dari hal itu, niscaya diri kalian akan mulia dan berbahagia di saat berjumpa dengan Tuhan kalian (Allah). Semoga shalawat dan salam tetap tercurah pada nabi kita Muhammad, keluarga dan para shahabatnya.

Sumber : I Love Allah.com Indonesia

Cara Menyembuhkan Hati

Share

Segala puji bagi Allah, Yang Maha Mengetahui segala perkara yang ghaib.

Segala puji bagi Allah yang dengan mengingat-Nya, hati merasa tentram.

Aku bersaksi bahwa tiada Ilah (tuhan yang haq untuk disembah) melainkan Allah semata, tiada sekutu baginya. Yang paling mulia untuk diminta dan Yang paling luhur untuk diharap.
Dan aku bersaksi bahwa penghulu dan nabi kami, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang diutus menjelang datangnya hari Kiamat, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya, serta menjadi cahaya yang menerangi.
Semoga shalawat, salam dan keberkahan-Nya senantiasa tercurah kepadanya hingga hari kiamat, dan kepada segenap orang-orang yang berjalan di atas manhajnya dan mengikuti jalannya hingga hari kiamat (kelak). Amma ba’du :


Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh.

Saudara-saudaraku seakidah :
Sesungguhnya kelembutan, kekhusyu’an serta keluluhan hati kepada Sang Pencipta dan Yang membentuk hati-hati tersebut merupakan suatu pemberian dari Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) dan sebuah karunia dari Ad-Dayyan (Yang membuat perhitungan) yang patut mendapatkan maaf dan ampunan-Nya. Menjadi tempat perlindungan yang kokoh dan benteng yang tidak dapat ditembus dari kesesatan dan kemaksiatan.
Tidaklah hati yang lembut kepada Allah Azza wa Jalla melainkan pemiliknya (adalah) seorang yang bersegara mengejar segala bentuk kebajikan dan sigap terhadap segala bentuk keta’atan dan keridhaan.
Tiada kelembutan dan keluluhan hati kepada Allah Azza wa Jalla melainkan anda akan mendapati pemiliknya sebagai orang yang paling menaruh perhatian penuh terhadap segala bentuk ketaatan dan kecintaan kepada Allah. Tiadalah ia diingatkan melainkan segera sadar, dan tiadalah ia diberitahukan melainkan segara mengerti.
Tidaklah kelembutan itu masuk ke dalam hati melainkan anda akan mendapati pemiliknya (senantiasa) berada dalam keadaan tentram dengan berzikrullah (mengingat Allah), lidahnya (senantiasa) basah dengan (ucapan) syukur dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Tiada hati yang lembut karena Allah Azza wa Jalla melainkan anda akan menemukan pemiliknya sebagai orang yang sangat jauh perilakunya dari segala bentuk kedurhakaan kepada Allah Azza wa Jalla.
Maka hati yang lembut merupakan hati yang (senantiasa) merasa hina di hadapan keagungan dan keperkasaan Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Tiada penyeru syaithan berusaha mencabutnya, melainkan  (hatinya tetap) luluh merasa khawatir dan takut terhadap (keagungan) Ar-Rahman Tabaraka wa Ta’ala.
Dan tidaklah penyeru kesesatan dan hawa nafsu datang kepadanya, melainkan menggigil ketakutan (hati tersebut) dari ketakutan kepada Al-Malik (Maha Raja) Subhanahu wa Ta’ala.
Hati yang lembut, (mengindikasikan) pemiliknya adalah seorang yang jujur, diatas segala bentuk kredibilitas apapun.

Hati yang lembut (itulah sejatinya) kelembutan, dan sebaik-baiknya kelembutan.
Namun (pertanyaannya) siapakah yang mengkaruniakan kelembutan dan keluluhan hati?
Siapakah yang memperkenankan (rasa) kekhusyuan dan kesadaran hati untuk kembali kepada Rabbnya?
Siapakah yang sekiranya Ia berkehendak membalikkan hati ini, sehingga menjadi yang paling lembut untuk mengingat Allah Azza wa Jalla, dan paling khusyuk saat mentadabburi ayat-ayat dan keangungan-Nya?
Siapakah Dia? Maha suci Ia yang tiada Ilah Ilah (tuhan yang haq untuk disembah) melainkan Dia (semata). Seluruh hati manusia diantara dua jari dari jari-jari-Nya, Dialah yang membolak-balikan hati sebagaimana yang Ia kehendaki. Maka (bisa jadi) anda akan mendapati seorang hamba yang sangat keras hatinya, namun Allah tidak menghendaki selain merahmati, menyayangi, mengkaruniai dan memuliakannya.
Sehingga datanglah sekelumit momentum yang menakjubkan tersebut, menghujamkan iman mengoyak keterpurukan hatinya tersebut, setelah Allah berkenan memilih dan menetapkan pemilik hati tersebut sebagai orang yang layak mendapatkan rahmat-Nya.
Maka tiada Ilah (tuhan yang haq untuk disembah) melainkan Allah, dari kelompok orang-orang sengsara kepada kelompok orang-orang bahagia. Dari kalangan orang-orang yang keras hatinya kepada kalangan orang-orang yang lembut hatinya, setelah sebelumnya kasar tutur kata dan perangkainya. Tidak mengenal kebajikan dan tidak mengingkari kemungkaran, melainkan menuruti hasrat hawa nafsunya. Saat ia bertawajjuh (menghadap) kepada Allah dengan hati, dan Ia mengubahnya.
Kalaulah dengan kondisi hati tersebut, yang lancang atas batasan-batasan Allah Azza wa Jalla, sehingga seluruh anggota tubuhnya pun menurutinya dalam berbuat kelancangan tersebut. Jika dengan situasi yang demikian, dalam sekelumit saja dapat berubah keadaannya, dan menjadi baik akibat dan efeknya, sehingga ia menjadi sadar, mengetahui dimana ia harus melangkahkan kakinya dalam perjalanannya.
Saudaraku yang kusayangi karena Allah :

Sesungguhnya ia adalah suatu kenikmatan yang tidak akan anda jumpai di atas permukaan bumi ini kenikmatan yang lebih besar dan agung daripadanya, (yaitu) kenikmatan berupa kelembutan hati dan kesadaran untuk kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Sungguh Allah Azza wa Jalla telah memberitakan, bahwa tidaklah hati yang terhalang dari kenikmatan ini melainkan pemiliknya akan diancam dengan adzab Allah, Dia Subhanahu berfirman :

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ


“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. (QS.39:22).

Kecelakaan, siksaan dan bencana bagi hati-hati yang keras dari mengingat Allah. Dan kenikmatan, rahmat dan kebahagiaan serta kesuksesan bagi hati yang luluh dan takut kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Karena itu -saudara-saudaraku seaqidah-, tiadalah seorang mukmin yang jujur dalam keimanannya melainkan ia senantiasa berpikir untuk mencari jalan agar hatinya dapat menjadi lembut? (Berpikir) bagaimana supaya saya dapat memperoleh kenikmatan ini?

Maka saya mesti harus menjadi kekasih Allah Azza wa Jalla, menjadi bagian dari para wali-wali-Nya. (Yang) tiada mengenal istirahat dan kesenangan melainkan mencintai dan menaati-Nya Subhanahu wa Ta’ala (saja). Karena ia menyadari bahwa tiada terhalang kenikmatan ini, melainkan (akan) terhalang (pula) dari segala kebaikan yang banyak.

Karenanya, berapa banyak orang-orang baik yang pada sebagian keadaan dan situasi yang menimpanya, mereka membutuhkan kepada orang yang dapat melembutkan hati-hati mereka. Maka perkara hati ini merupakan perkara yang menakjubkan, dan keadaannya asing (tidak dapat diterka).
Terkadang hati merespon kebaikan, dan saat keadaannya demikian ia sangat lembut terhadap Allah Azza wa Jalla dan menyeru-nyeru kepada Allah.

Seandainya (dalam keadaan tersebut) ia diminta untuk menginfakkan seluruh hartanya karena cinta kepada Allah, niscaya akan diberikannya. Sekirannya diminta untuk menyerahkan jiwanya di jalan Allah, niscaya akan dikorbankannya.

Sesungguhnya ia merupakan sekelumit (momentum) saja, dimana Allah memenuhi hati-hati tersebut dengan rahmat (kasih sayang)nya.

Sebaliknya terdapat (pula) sekelumit-sekelumit momentum (lainnya) yang dapat merubah keadaan orang beriman terhadap Allah Tabaraka wa Ta’ala, (yaitu) sekelumit-sekelumit momentum yang mengeraskan (hati manusia). Tidaklah seorang manusia sekiranya ia melewati situasi ini (sekalipun hanya) sebentar saja, niscaya hatinya akan mengeras dan merasa sakit di dalamnya, sampai-sampai begitu sangat kerasnya bagaikan batu. Al-‘Iyadzu billah (berlindung kepada Allah dari situasi semacam itu).

Ada beberapa faktor yang melembutkan hati dan ada (pula) faktor-faktor yang dapat mengeraskan hati :

Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mempersilahkan dan mengutamakan (pembahasan ini) dengan mengarahkan kepada penjelasan-penjelasan di dalam al-Qur`an. Tidak ada (upaya menghadirkan) kelembutan hati dengan cara yang lebih agung dibanding (dengan) sebab iman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Tiada seorang hamba (pun) yang telah mengenal Rabbnya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya melainkan hatinya akan menjadi lembut terhadap Allah Azza wa Jalla, dan (dengan sendirinya) ia akan menegakkan batasan-batasan Allah. Tiadalah ayat al-Qur`an dan hadits Rasulullah datang kepadanya melainkan ia akan mengimplementasikan dengan bahasa perangai dan tutur:

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ 

"Kami dengar dan kami ta`at". (Mereka berdo`a): ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’." (QS.2:285).

Maka tiadalah seorang hamba yang telah mengenal Allah dengan nama-nama-Nya yang baik dan telah mengenal Rabbnya -yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, sementara Dialah yang melindungi, namun tiada yang dapat dilindungi dari (siksa)-Nya-, melainkan anda akan mendapatinya berpacu kepada kebaikan, dan berpaling dari keburukan.

Faktor terpenting yang menjadikan hati lembut terhadap Allah Azza wa Jalla dan luluh dari rasa ketakutan yang timbul karena mengenal Allah Tabaraka wa Ta’ala, dimana seorang hamba telah yang mengenal Rabbnya.

Yang Pertama :

Mengenal-Nya, bahwa tiadalah segala sesuatu di alam semesta ini melainkan hal itu mengingatkannya kepada Rabbnya.  Pagi dan petang mengingatkannya akan Rabb yang Maha agung. Nikmat dan bencana mengingatkannya kepada yang Maha Penyantun dan Mulia. Kebaikan dan keburukan mengingatkannya terhadap Yang dapat (mendatangkan) kebaikan dan (menolak) keburukan, yaitu Subhanahu wa Ta’ala.
Maka barangsiapa yang mengenal Allah, hatinya menjadi lembut karena takut akan keagungan Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Sebaliknya, tidaklah anda mendapati hati yang keras melainkan anda akan menjumpai pemiliknya sebagai seorang hamba yang paling bodoh (ajhal) mengenai Allah Azza wa Jalla, dan sangat jauh untuk mengenal Allah mengenai keperkasaan dan siksaan-Nya, dan ia merupakan sepandir-pandirnya manusia mengenai nikmat dan rahmat Allah Azza wa Jalla.
Sehingga sungguh anda akan menjumpai sebagian orang-orang durhaka sudah sangat berputus asa dari kasih sayang Allah, dan merasa sangat pupus harapan dari rahmat-Nya. Kita berlindung kepada Allah terhadap situasi kebodohan mengenai Allah (al-jahl billah).
Lalu ketika ia jahil (bodoh) mengenai Allah, maka ia akan bersikap lancang terhadap batasan-batasan-Nya, lancang terhadap larangan-larangan-Nya, dan ia tidak mengenal melainkan pada malam dan siang harinya ia berbuat kefasikan dan kedurhakaan. Demikianlah yang diketahui dari kehidupannya, dan beginilah yang dapat diprediksi berkenaan dengan target keberadaan dan masa depannya.
Karena itu –Saudaraku yang kucintai karena Allah-, mengenal Allah Azza wa Jalla merupakan suatu cara (efektif) untuk dapat melembutkan hati. Sebab itu setiap orang yang anda temui memberikan pelajaran, mengekalkan tafakkur akan kekuasaan Allah. Ketika anda mendapatkan di dalam hatinya ada kelembutan, di saat itu pula anda akan mendapati hatinya khusyu` dan luluh kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. 


Faktor Kedua :

Yang meluluhkan dan melembutkan hati, dan menolong seorang hamba  atas kelembutan hatinya dari rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla adalah memperhatikan ayat-ayat al-Qur`an ini.
Perhatian dalam hal ini merupakan jalan yang dapat mengantarkan kepada hidayah taufik dan kebenaran. Menaruh perhatian penuuh terhadap al-Qur`an telah dideskripsikan Allah dalam firman-Nya :

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ 

“(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. (QS.11:1).

Tidaklah seorang hamba membaca ayat-ayat al-Qur`an ketika membacanya dengan kehadiran hati, sambil memikirkan dan merenungkan melainkan matanya (menjadi) menangis, hatinya (menjadi) khusyu`, jiwanya memancarkan iman dari kedalamnya, hendak berjalan menuju Allah Tabaraka wa Ta’ala. Sekiranya permukaan hati itu berbalik setelah (berinteraksi dengan) ayat-ayat al-Qur`an, menjadi lahan subur bagi kebaikan, kecintaan dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.

Tidaklah seorang hamba membaca al-Qur`an dan menyimak ayat-ayat Allah melainkan anda akan mendapati pasca pembacaan dan perenungan, sebuah kelembutan. Sungguh hati dan kulitnya akan bergetar karena takut akan keagungan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Firman-Nya Ta’ala :

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَاباً مُّتَشَابِهاً مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (QS.39:23).

Inilah al-Qur`an yang mengagumkan, sebagian sahabat dibacakan beberapa ayat-ayat al-Qur`an maka (langsung) berbalik dari paganisme kepada ketauhidan, dari menyekutukan Allah kepada menyembah Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala (hanya) dengan beberapa ayat-ayat sederhana.

Al-Qur`an ini merupakan nasehat dari Rabb semesta alam, firman dari Tuhan umat-umat terdahulu maupun generasi-generasi selanjutnya, tiadalah seorang hamba membacanya melainkan dimudahkan baginya mendapatkan tuntunan (Ilahi) saat membacanya, karenanya Allah berfirman dalam Kitab-Nya :

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS.Al-Qamar (54):17).

Apakah di sana ada orang yang hendak mengambil pelajaran?
Apakah di sana ada orang yang menginginkan (mendapatkan) pesan sempurna dan nasehat yang tinggi? ... Inilah al-Qur`an kami.

Karenanya – saudara yang kucintai karena Allah- tiada hati yang merasa ketagihan, dan tidak pula seorang hamba yang ketagihan untuk membaca al-Qur`an, menjadikan al-Qur`an selalu bersamanya, sekiranya dia belum hapal maka ia dapat membacanya sepanjang malam dan siang hari, melainkan lembutlah hatinya karena rasa takut akan keagungan Allah Tabaraka wa Ta’ala.


Faktor Ketiga :

Diantara faktor-faktor yang membantu melembutkan hati dan kesadaran untuk senantiasa kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, adalah seorang hamba sadar bahwa ia akan kembali kepada Allah, senantiasa sadar bahwa setiap permulaan (selalu ada) akhirnya. Bahwa tidaklah setelah kematian yang merupakan bagian perjalanan yang harus dilewati, dan tidak pula setelah (menjalani) kehidupan dunia, melainkan (kesudahannya) surga atau neraka.

Maka sekiranya seorang manusia sadar bahwa kehidupan (dunia) akan berakhir, dan bahwa (dunia) merupakan kesenangan (sementara) yang akan binasa, bahwa ia sesuatu yang menipu dan penghalang, Dia menjadikan -demi Allah- itu semua sebagai kehinaan dunia dan merespon Pemilik dunia ini dengan begitu responsif, rasa kembali dan kejujuran, maka lembutlah hatinya.
Barangsiapa yang merenungi kubur, dan merenungi keadan-keadaan penduduknya, niscaya hatinya akan luluh, hatinya akan terbebas dari segala kebekuan dan hal-hal yang menipu. Kita mohon perlindungan kepada Allah dari hal-hal demikian itu.
Karenanya anda tidak akan mendapati seorang yang biasa berziarah kubur dengan bertafakkur, merenungi, dan mentadabburi, ketika ia mengingat orang-orang tua, saudara-saudari, sahabat-sahabat, orang-orang yang dicintainya. Ketika ia mengingat kedudukan-kedudukan mereka, dan sadar bahwa waktunya sudah sangat dekat keberadaannya di tengah-tengah mereka, bahwa sebentar lagi ia akan menjadi tetangga sebagian dengan sebagian lainnya. Telah terputus kunjungan diantara mereka dengan tetangganya. Dan bahwa mereka telah saling berdekatan kuburnya, dan diantara keduanya sebagaimana antara langit dan bumi, kenikmatan (surga) dan (siksa) neraka.

Tidaklah seorang hamba mengingat kedudukan-kedudukan yang dianjurkan oleh Nabi saw. untuk mengingatnya, melainkan melembutkan hatinya dari rasa takut akan keagungan Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Barangsiapa yang berdiri di atas liang kubur yang telah selesai digali, lalu ia memperkirakan dirinya, sekiranya ialah yang akan dimasukkan liang kubur tersebut. Dan tidaklah ia berdiri di hadapan liang kubur, melihat tubuhnya sedang diturunkan ke dalamnya, maka ia akan bertanya kepada dirinya sendiri :
-          Apa yang terjadi setelah ditutup (kuburnya)?
-          Siapakah (pribadi) yang ditutup kuburnya (ini)?
-          Atas dasar apa ditutup (kuburnya)?
-          Apakah (kuburnya) ditutup atas (dasar) ketaatan atau kemaksiatan(nya)?
-          Apakah (kuburnya) ditutup atas siksa (kubur) atau atas kenikmatan (kubur)?
Tiada Ilah (tuhan yang haq untuk disembah) melainkan Dia, Yang Maha mengetahui keadaan-keadaan mereka yang sebenarnya, Dialah Yang Maha menetapkan hukum lagi Maha adil yang memisah-misahkan diantara mereka (sesuai dengan perbuatannya).
Tiada seorang hamba melihat pemandangan-pemandangan ini, dan tidak pula terkumpul dalam dirinya renungan-renungan ini, melainkan berguncang hatinya karena rasa takut dan kengerian terhadap keagungan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Berserah kepada Tabaraka wa Ta’ala dengan penyerahan yang sejujurnya dan kembali serta tekun (dalam ketaatan kepada-Nya).
(Saudaraku) yang kucintai karena Allah :
Separah-parahnya penyakit yang menimpa hati adalah penyakit kebekuan hati, dan kita berlindung atas keadaan yang demikian itu.
Dan faktor terbesar yang menyebabkan kerasnya hati setelah kebodohan mengenai Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah kecondongan kepada dunia dan bangga akan status keduniaannya, serta terlalu sibuk dengan ucapan-ucapan yang berlebihan. Sesungguhnya ini merupakan bagian dari faktor penyebab terbesar yang mengeraskan hati-hati, wal’iyadzu billah Tabaraka wa Ta’ala. Karena jika seorang hamba telah disibukkan dengan perkara mengambil dan menjual, dan disibukkan pula dengan berbagai fitnah dan tribulasi yang membinasakan, hal ini hanya mempercepat proses pengerasan hatinya (saja). Karena semua perkara tersebut, jauh dari (hal-hal yang dapat) mengingatkan dirinya terhadap Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Karena itu, sudah seyogyanya bagi setiap orang yang hendak menerjuni (urusan-urusan) dunia ini, untuk menerjuninya dengan penuh kehalusan. Agama kita bukanlah agama para rahib (pendeta), dan tidak (boleh) mengharamkan yang telah dihalalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak membatasi kita dengan perkara-perkara yang baik.

Namun dijalani dengan penuh seksama, maka ketentuan-ketentuan takdir telah ditetapkan oleh pena-Nya, dan ketentuan-ketentuan rezeki (juga) telah ditetapkan. Manusia mengambilnya dengan sebab-sebab usahanya, tanpa adanya benturan dengan qadha` dan qadar.
Ia mengambil bagiannya dengan sikap yang lembut dan penuh keridhaan dari Allah tabaraka wa Ta’ala sesuai yang dimudahkan baginya, lalu mengucapkan pujian (hamdalah) dan bersyukur kepada Sang Penciptanya, sehingga mempercepat turunnya keberkahan padanya, dan mampu mencegah terjadinya bencana kebekuan (hati), kami memohon kepada Allah keselamatan dari perkara tersebut.

Sebab itu, faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya kekerasan hati adalah kecenderungan terhadap dunia. Anda akan mendapati para pemilik hati yang keras kebanyakan mereka memiliki kesibukkan dengan perkara-perkara dunia, mereka mengorbankan segala sesuatu, mengorbankan waktu-waktu mereka, mengorbankan shalat-shalat mereka, mereka rela terjerambat ke dalam perbuatan-perbuatan senonoh dan membinasakan. Tetapi dunia ini (malah) yang menarik mereka, tidak mungkin seorang dari mereka berkorban (hanya) dengan satu dinar atau dirham saja (untuk mencapai kepentingan-kepentingan duniawi mereka), karenanya dunia ini telah merasuk ke dalam hatinya.

Dan dunia itu bercabang-cabang, dunia bercabang-cabang, sekiranya seorang hamba mengetahui hakikat percabangan ini, niscaya pagi-petang lisannya akan terengah-engah kepada Rabbnya :
“Ya Rabbku, selamatkan aku dari fitnah dunia ini, sesungguhnya di dalam perkara dunia ini (memiliki) berbagai cabang-cabang, dimana tidaklah hati cenderung kepada salah satunya melainkan ia akan bernafsu kepada cabang berikutnya, kemudian yang berikutnya (lagi), hingga ia jauh dari (mengingat) Allah Azza wa Jalla. Kedudukannya menjadi merosot di sisi Allah, dan Allah tidak peduli akan kebinasaan dirinya (yang sedang terperangkap) di dalam satu lembah dari lembah-lembah dunia yang ada. Wal ‘iyadzu billah.
Hamba yang lupa akan Rabbnya ini, merespon dunia ini dengan penuh hormat, maka ia mengagungkan dengan sikap yang tidak semestinya untuk diagungkan, mengacuhkan siapa yang seharusnya dibesarkan, diagungkan dan dimuliakan (yaitu) Subhanahu wa Ta’ala. Sebab itu ia layak mendapatkan akibat yang terburuk sekalipun. Wal ‘iyadzu billah.

Dan diantara faktor penyebab kerasnya hati:

Bahkan termasuk faktor yang paling menyebabkan kerasnya hati, duduk bersama dengan orang-orang durhaka, dan bergaul dengan orang yang tidak memiliki kebaikan dalam interaksinya. Dengan demikian, tidaklah seorang manusia menjalin pertemanan yang tidak membawa kebaikan dalam pertemanannya itu melainkan hatinya menjadi keras dari mengingat Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dan tidaklah ia mencari orang-orang yang baik, melainkan mereka (membantu) melembutkan hatinya kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Dan tidaklah ia tamak terhadap majelis-mejelis mereka, melainkan kelembutan akan datang kepadanya, ia mau ataupun tidak. Datang kepadanya untuk meneguhkan kelemahan hatinya, selanjutnya mengeluarkannya sebagai seorang hamba shalih yang sukses, yang merasa akherat berada dihadapannya.

Karenanya sudah seyogyanya bagi setiap orang, sekiranya harus berinteraksi dengan orang-orang jahat (juga), agar bergaul dengan penuh kewaspadaan, dan jadikanlah interaksinya itu sebatas yang diperlukan, sehingga terselamatkan agamanya, dan pokok kekayaan dunia ini adalah agama.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon dengan nama-nama-Mu yang baik, dan sifat-sifatmu yang tinggi, agar berkenan mengkaruniakan hati-hati yang lembut kepada kami agar (senantiasa) mengingat dan bersyukur kepada-Mu.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu hati-hati yang tenang untuk mengingat-Mu.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu lisan-lisan yang senantiasa basah menyebut-Mu.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu iman yang sempurna, keyakinan yang benar, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, amal shaleh yang diterima di sisi-Mu, wahai Yang Maha Mulia.
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari fitnah-fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.
Subhana Rabbika Rabbil ‘Izzati ‘Amma Yashifun, wa salamun ‘ala mursalin walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Saudaraku yang kucintai – semoga Allah berkenan menjagamu.
Kami tidak bermaksud dalam penyebarluasan materi ini hanya sekedar untuk dibaca atau disimpan di komputer saja, bahkan kami berharap adanya respon yang lebih jauh lagi dari anda, diantara :
-          Menyebarluaskan materi ini di situs-situs internet lainnya.
-          Mengeditnya, untuk kemudian mencetak dan mengemasnya dengan cara yang menarik, bagai hadiah yang akan diberikan kepada orang-orang yang dicintai dan sahabat-sahabat lainnya.
-          Syaikh penulis karya ini telah mengizinkan bagi yang berniat mencetaknya, seperti buku saku sebagai amal jariah bagi anda hingga hari Kiamat.
Saudaraku yang kucintai, (semoga) kami diikut sertakan dalam doa-doa anda, dikesendirian anda.
Mengenai usulan-usulan anda, pengarahan-pengarahan anda untuk saudara anda, mungkin anda dapat berpartisipasi dalam usaha amal besar ini.
Ya Allah, jadikanlah amalan ini sebagai amalan yang ikhlash demi wajah-Mu yang Mulia,

By: Asy-Syaikh Muhammad Mukhtar Ay-Syinqithi

Pengobatan Hati

Share


Dialah Allah Penguasa Tunggal satu-satunya. Dialah Allah Yang Maha Gagah Pemilik Alam Semesta. Semuanya Yang Ada adalah ciptaan-Nya. Takluk pada pemilik-Nya. Yang Maha Tahu Segala Kebutuhan hamba-Nya. Dialah Allah Yang Membagi rejeki hamba-hamba-Nya.

Orang yang paling beruntung adalah orang yang ahli takwa yang hatinya yakin pada Allah, lahirnya istiqamah patuh kepada Allah. Dunia berikut isinya hanya sekadar pelayan, tidak ada-apanya dalam pandangannya. Kita mampir sebentar di dunia untuk berbekal pulang. Besok lusa mungkin tiada. Allah menciptakan kita bukan Allah memerlukan kita, tetapi untuk mengabdi kepada-Nya untuk kepentingan kita, bukan untuk keuntungan Allah.

Allah Maha Tahu niat sekecil apa pun. Senyum, misalnya, bisa saja sama tersenyum, tetapi niatnya Allah SWT mengetahui persis senyum itu untuk siapa. Tiada kebohongan untuk bersembunyi. Hatilah pusat pandangan Allah. Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui." [QS Ali Imran : 29] “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan tidak juga kepada rupa-rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian (dan amalan-amalan kalian)” (HR. Muslim)

Dalam shalat sama gerakan dan bacannya, yang membedakan kondisi hatinya. Allah mengetahui persis apa yang ada di dalam hati kita. Berbahagialah yang berhati bersih, yaitu orang yang ikhlas dalam beramal
Hati bisa dikategorikan menjadi tiga bagian :

Qalbun mayyit

Hatinya seperti mayat. Tidak ada guna sama sekali. Baik buruknya ditentukan hawa nafsu. Maka ia akan berbuat keji dan biadab, karena tidak ada nurani. Mata dan telinga hati sudah buta. Orang seperti ini benar-benar celaka dunia akhirat. Dalam surat Al Baqarah ayat 6 tercantum: “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.”

Qalbun Mariidl

Hati yang berpenyakit. Penyakit hati itu sendiri apabila dijelaskan akan meliputi berbagai tingkatan. Di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 10 difirmankan : “Di dalam hati mereka [orang-orang munafik] ada penyakit, maka Allah tambahkan penyakit ke dalam hati mereka dan bagi mereka ada adzab yang pedih disebabkan kedustaan mereka”.

Qalbun Salim (Hati yang selamat)

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS As-Syu’araa 88-89).

Orang berqalbun salimlah yang benar tauhidnya. Seperti dua sisi mata uang, kedua mukanya pasti sama nilainya. Disebabkan Tauhid inilah mengapa para nabi diutus ke dunia. Orang bertauhidlah orang yang paling merdeka di dunia. Siapa paling bermartarbat terhormat itulah yang tauhidnya paling bagus. Setiap terbaik cita-citanya ada di dalam tauhid. Siapa yang paling mulia, ia yang tauhidnya paling bagus. Orang yang paling bertauhid, itu merdeka dari diperbudak harta manusia, jabatan, uang, atau apa pun kecuali hanya berharap dari Allah, dan tidak meminta pertolongan kecuali pada Allah. Sepanjang masih takut, ia masih menghamba pada sesuatu, ia bisa dikatakan tidak bertauhid dan tida merdeka.

Rahasia Akhlakul karimah adalah tauhid. Ukhuwah tidak akan bisa terjadi kalau tidak ada satu tujuan kepada Allah, berarti mesti dengan bersih tauhid. Masing-masing orang harus bermujahadah membersihkan hati. Terjadinya perpecahan karena adanya nafsu yang tidak terkendali. Dengan bersih hati masing-masing individunya, nanti Allah yang akan mempersatukan. Jika kita ingin tangguh kuat, maka tauhid kuncinya. Siapa yang yakin musibah terjadi dengan ijin Allah, dia tidak akan memelas kepada musibah kepada manusia. Tidak ada alasan untuk tidak kuat menghadapi hidup ini. Sepelik apa pun, tetap ajeg saja. Kenapa pahit, karena ukurannya dunia, dan rasa pahitnya itu sebagai tebusan atas dosa-dosa kita.

Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. (QS Al-Maaidah : 49)

Bagaimana mungkin kita mendapat ujian kemudian mengadukan kepada manusia, sedangkan kita tahu yang menyentuhkan ujian itu adalah Allah SWT, dan Allah sudah mengukur orang yang tauhidnya benar maka akan bersabar dan bersyukur.

Permisalannya adalah sebagai berikut: Seperti orang yang diketahui bau ketiak, maka dipastikan ia akan dijauhi orang lain. Bagi si penderita tidak perlu memelas agar orang lain bisa mengerti tentang keadaan dirinya, dan diharapkan mereka tidak menjauh bahkan tetap mendekat. Semestinya ia tidak harus sabar menunggu orang lain untuk mengerti, melainkan ia dituntut untuk bersabar dalam mengobati ketiaknya, dengan ikhtiar sekuat tenaga agar bau ketiaknya sembuh.

Kita lihat orang yang ada di rumah sakit, yang jasadnya sakit, tapi ridha menahan sakit, dan tetap berobat. Sabarnya orang yang ketiaknya bau, ridho dengan kenyataan, kemudian sabar untuk memeriksa dan mengobati atas kelemahan dirinya tersebut.

Ada orang yang rela melakukan general cek up. Setelah diketahui penyakitnya, ia pun harus mau untuk diobati, misalnya terdeteksi penyakit kanker, maka ia harus dikemoterapi, misalnya, padahal rasanya amat panas dan biayanya mahal pula, serta harus diisolasi. Tentunya semua itu agar badannya segera sehat. Tenaga, pikiran, biaya, pengorbanan dikeluarkan habis-habisan (all out) demi kesembuhannya.

Namun setelah sehat dengan memakan biaya yang besar, ternyata ujungnya ia tetap akan mati. Ini mengherankan, ketika orang itu habis-habisan untuk sehat lahirnya, tetapi tidak habis-habisan untuk menyembuhkan sakit batin. Padahal penyakit hati itu jauh lebih ganas, bisa mencelakakan, lebih menghinakan dunia akhirat. Sakit lahir tatkala mati maka dianggap selesai. Sedangkan sakit batiniah, ketika mati maka akan menjadi awal dari seluruh masalah besar, karena adanya azab kubur. Azab kubur itu lama dan pasti adanya sebagaimana kita pasti mati.

Siapa pun, sesungguhnya ingin bahagia, terlindungi, kokoh, tercukupi. Maka dari itu, tugas kita harus mesti sungguh-sungguh untuk mengobati penyakit hati. Sebab dengan hati yang sehatlah keinginan tersebut bisa dicapai. Seorang yang berpenyakit hati sombong, misalnya, tidak mungkin ia bisa bahagia, ia tidak selaras dengan hatinya, karena ciri utama sifat sombongnya adalah tidak mau mengakui atas kesalahan dirinya.

Gejala penyakit hati membuat diri labil, tidak ajeg dan tidak mantap dalam menjalani hidup. Goyah tidak tenang, bingung, menyandarkan diri ke sana sini, padahal Allah sangat dekat. Itu semua ciri adanya dosa di hati yang menimbulkan rasa gelisah, karena hatinya terhijab kepada Allah. Orang yang bersih hati situasi sepelik apa pun ia akan mantap. Allah senantiasa bersama dengan orang yang bersih hatinya, karena Dia Maha Suci, akan bersemayam pada hati yang bersih.

Orang yang tercerahkan hatinya ketika dia mendapatkan masalah, pertama yang akan dilakukannya adalah berbicara terhadap penguasa semua makhluk.
Makhluk tidak memberi manfaat apa-apa tanpa ijin Allah. Ridho terhadap ujian Allah, dan menyadari bahwa ujian itu karena dosanya, dan memohon taubat atas dosanya.
Allah Pengatur segala rencana. Dan ia harus bulat terlebih dahulu kepada Allah. Yakin dengan bulat hati maka akan mendapat jalan untuk menemukan solusi.

Sedangkan bagi orang yang berpenyakit hati, sikap dan keputusannya akan dangkal, tidak bisa tajam berpikirnya. Pendek sekali tidak bisa menganalisa lebih jauh. Dia bermasalah dengan orang lain dan dirinya sendiri, karena aura yang terpancarnya aura kepicikannya.

Target bersih hati harus secepatnya, tidak bisa dipasang dalam jangka waktu kapan, apalagi masih lama. Karena masalah umur kita tidaklah tahu. Semestinya targetnya bagaimana husnul khatimah dengan mujahadah
Lalu bagaimana cara mujahadahnya agar hati kita bisa bersih? Mintalah berbicara sejujurnya tentang hati kita. Kalau mempunyai anak yang masih kecil tanyalah mengenai diri kita. Bila memerlukan proses uzlah, lakukanlah karena itu bagian dari proses penyembuhan. Sering-seringlah berkhalwat, karena itu akan melatih kita agar senantiasa ingin selalu dekat dengan Allah merindukan-Nya bila banyak terlupa.

Para sahabat nabi saw hijrah dalam keadaan miskin meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah, setelah di Medinah, mereka kembali lagi memiliki harta kekayaannya. Jangan berat melepas apa pun yang menjadi hijab kepada Allah. Tidak ada yang lebih penting di dunia ini kecuali kita bisa selamat husnul khatimah.
Maka, bila memiliki keinginan, mestinya keinginannya hanya satu, yakni bisa bersih hati. Nanti diberi dunia yang tidak akan ke mana-mana. Dunia ada di tangan, kalau takdirnya kaya, kaya di hati kaya di tangan, di hati tidak ada di tangan ada. Di hati tidak ada harta di tangan pun tidak ada, karena dimanfaatkan di jalan Allah SWT.

Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. (QS Al An’am : 3)

Mau terang-terangan atau secara sembunyi semuanya dihitung Allah. Mari kita bermujahadah dengan ikhlas, sebab bila tidak ikhlas, kita bisa menjadikan mujahadah ini sebagai obyek pura-pura, tidak asli, mengangkat diri di hadapan manusia. Mau berpuluh tahun tidak akan sampai bila seperti itu.

oleh Aa Gym
sumber I Love Allah Indonesia

8.23.2011

Bersihkan Hati Dengan Taubat

Share


Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’alla Yang Maha Halus yang dengan kehalusan -Nya segala bencana akan sirna, Yang Maha Penyantun yang dengan kasih sayang -Nya segala nikmat dan kebaikan tercurah, dan dengan prasangka yang baik kepada -Nya segala kebaikan terjadi, dan dengan berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’alla segala kejahatan tersingkap, di antara orang yang berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’alla adalah;
قال الله تعالى: ﴿الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ * فَانقَلَبُواْ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُواْ رِضْوَانَ اللهِ وَاللهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ(
(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Ali Imron: 173-174).
Aku memuji Allah Subhanahu wata’alla Yang Maha Suci. Pujianku kepada Allah Subhanahu wata’alla terhadap nikmat -Nya. Sebab dengan menjalankan perintah -Nya dan  menjauhi larangan -Nya hati akan berjalan menggapai berbagai ilmu dan kebaikan, aku bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’alla karena diriku yang berserah diri kepada -Nya dengan sebaik-baik kepasrahan guna menghancurkan setiap godaan setan yang membangkang. Aku bersaksi bahwa  tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subhanahu wata’alla, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya, pada segala sesuatu terdapat tanda-tanda yang menegaskan bahwa Dia Maha Esa.
قال الله تعالى: ﴿مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِن ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾
“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah: 7.)
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan   -Nya, yang memiliki keturunan yang mulia yang menyebarkan aturan-aturan yang baik dalam meraih berbagai kebaikan, di mana bulan terpecah untuk membuktikan kebenaran risalahnya, benda-benda padat rindu kepada pribadinya, kerikil-kerikil kecil terdengar bertasbih pada telapak tangannya dan manusia ini memahami segala ucapannya, sungguh banyak mukjizat dan karomah yang dimilikinya.
Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan Rasul -Mu Muhammad Shalallahu,alaihi wa sallam, dan kepada para keluarga dan para shahabat beliau yang suci:
قال الله تعالى: ﴿الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴾
“…itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat -Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan lah mereka bertawakal”.(QS. Al-Anfal: 2).
Amma Ba’du. Wahai sekalian manusia bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wata’alla dengan sebenar-benar taqwa dan ikatlah diri kalian pada ajaran Islam dengan ikatan yang kuat:
قال الله تعالى: ﴿وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnyadan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali Imron: 133-134).
Wahai sekalian para hamba Allah! Sifat tamak telah dikalahkan jiwa sehingga membuatnya binasa, sementara hati telah dikuasai oleh dosa-dosa sehingga membuatnya menjadi menghitam, bersihkanlah kegelapan ini dengan bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’alla, taubat adalah pelita hati, bukalah pintu-pintu rahmat Allah dengan beristighfar kepada Allah Subhanahu wata’alla, sebab Dia lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Membuka jalan kebaikan, renungkanlah firman Allah:
قال الله تعالى: ﴿وَيُنَجِّي اللهُ الَّذِينَ اتَّقَوا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾
Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita. (QS. Al-Zumar: 61).
Dan renungkanlah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Celakalah orang yang mengahambakan dirinya pada uang dinar, celaka orang yang menghambakan dirinya pada uang dirham, celaka orang yang menghambakan dirinya pada pakaian beludru, celaka orang yang menghambakan dirinya pada kain halus (khamisah) jika diberi dia senang namun jika tidak diberi maka dia marah, celaka dan binasa, jika ia tertimpa musibah (tertusuk duria) maka tidak ada seorangpun yang menolongnya, dan beruntunglah seorang hamba yang mengambil kendali kudanya, rambutnya kusut dan kusam, kedua kakinya berlumpur, jika ditempatkan pada bagian penjagaan maka dia tetap menjalankan tugasnya dalam urusan penjagaan dan jika dia ditempatkan pada bagian belakang tentara maka dia menempatkan diri pada bagian belakang, jika dia meminta bantuan pertolongan dia tidak diberikan dan jika meminta izin maka dia tidak diizinkan”. HR. Bukhari.
Wahai sekalian manusia!. Sesungguhnya kalian tidak dituntut untuk meninggalkan dunia selamanya, sebab hal ini tidak mungkin, namun kalian hanya dituntut agar berlaku adil dalam menuntut dunia, di mana kalian meraihnya dengan cara yang mubah, tidak memalingkan kalian dari berzikir kepada Allah Subhanahu wata’alla dan taat kepada   -Nya. Tidak memalingkan kalian dari perintah Allah Subhanahu wata’alla dan jalan -Nya, akan tetapi kalian dianjurkan mencari rizki dengan cara yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’alla, yaitu berlaku jujur saat bergaul, menunaikan amanah, memberikan nasehat kepada manusia dan ikhlas semata-mata karena Allah Subhanahu wata’alla, dengannya kalian akan meraih kemenangan dunia dan akherat, dan renungkalah bagaimana akibat orang yang hanya ingin meraih dunia semata, bagaimanakah kesudahan mereka?. Renungkanlah firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:
قال الله تعالى: ﴿مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ * أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ﴾
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?. (QS. Hud: 15-16).
Dan renungkanlah akibat dan balasan orang yang  mencari dunia di samping menuntut kebaikan di akherat kelak, tidak meremehkan salah satu dari kebahagaiaan dunia dan akherat. Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman:
قال الله تعالى: ﴿مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ﴾
Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat. (QS. Al-Syura: 20).
Wahai hamba Allah Subhanahu wata’alla bertaqwalah kepada–Nya perbaikilah kerusakan amal dan hati kalian niscaya Allah memperbaiki keadaan kalian semua, sayangilah orang-orang yang lemah niscaya Allah Subhanahu wata’alla mengangkat derajat kalian, hiburlah orang yang fakir dan miskin niscaya Allah Subhanahu wata’alla meluaskan rizki kalian, cegahlah perbuatan maksiat orang-orang yang bodoh niscaya Allah Subhanahu wata’alla memberikan keberkahan pada amal kalian, barangsiapa yang menyayangi orang lain niscaya dia akan dikasih sayangi, barangsiapa yang berbuat zalim kepada orang lain maka dia akan dizalimi, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’alla menangguhkan balasan amal seseorang dan tidak meremehkannya dan barangsiapa yang menyia-nyiakan ketaatan maka akan menyesal dan penyesalan tidak akan memberikan manafaat apapun. Orang yang berniaga dengan amal shaleh maka dia pasti beruntung dan menang dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wata’alla dalam keadaan rahasia dan terang-terngan  maka dia dijaga dan selamat, dan Allah Subhanahu wata’alla bersama orang-orang yang jujur, jauhilah sikap melampaui batas, permusuhan, dengki dan hasad (Orang muslim yang sebenarnya adalah orang muslim yang lain merasa aman dari kejahatan lisan dan tangannya).
Ketahuilah bahwa orang yang dengki tidak pernah bisa meminpin, dia tidak mendapatkan dari hasadnya kecuali keresahan, kecemasan kebimbangan, siapakah yang mampu menghalangi nikmat Allah Subhanahu wata’alla yang telah ditetapkan bagi seseorang hamba? Dan siapakah yang menghalangi pemberian Allah Subhanahu wata’alla yang telah dibagi -Nya sesuai dengan kehendaki -Nya, yakinlah bahwa bejana itu akan mengeluarkan apa yang disimpannya, barangsiapa yang menggali lubang bagi saudaranya maka dia akan terperosok padanya, barangsiapa yang dijaga oleh Allah Subhanahu wata’alla maka dialah yang tertolong, dan barangsiapa yang diliputi oleh rahmat Allah Subhanahu wata’alla maka dialah orang yang terhibur dan setiap pelaku kebaikan dan keburukan akan mendapat balasannya masing-masing.
Semoga Allah Subhanahu wata’alla memberikan keberkahannya bagiku dan bagi kalian semua di dalam Al-Qur’an yang mulia, dan Allah Subhanahu wata’alla memberikan manfaat bagiku dan bagi kalian dengan ayat-ayat  Allah Yang Maha Bijaksana yang tertera di dalamnya. Hanya inilah yang bisa aku katakan dan aku memohon ampunan bagi diriku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin kepada Allah Subhanahu wata’alla yang Maha Mulia dari segala dosa. Mohonlah ampun kepada -Nya dan bertaubatlah kepada -Nya, sebab Dia adalah Zat Yang Pengampun lagi Maha Penyayang.

Khutbah kedua
Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’alla, Tuhan Yang menjadi raja dan Maha Pemberi, Yang Maha Penyayang dan Maha menerima taubat, yang telah menciptakan seluruh manusia dari tanah, dan memberikan kepada mereka apa yang menjadi penopang bagi mereka dalam menunaikan amanah berupa akal pikiran. Aku bersaksi tanpa ragu bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subhanahu wata’alla yang Maha Esa tiada sekutu bagi        -Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhamad adalah hamba dan utusan-Nya yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan peringatan bagi orang yang memiliki akal pikiran, semoga Allah Subhanahu wata’alla mencurahkan shalawat dan salam kepada para shahabat dan keluarganya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan kebaikan sampai hari kiamat.
Amma Ba’du. Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wata’alla dan bertaubatlah kepada Nya, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan dirinya. Mintalah ampunan Allah Subhanahu wata’alla dari segala dosa-dosa kalian sesungguhnya Allah Subhanahu wata’alla sebaik-baik yang menerima taubat. Bertaubatlah kepada Tuhanmu dengan penuh keikhlasan dengan meninggalkan segala kemaksiatan dan menyesal dengan perbuatan tersebut dan bertekad untuk tidak kembali melakukan kemaksiatan, inilah taubuat nasuha yang diperintahkan:
قال الله تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (QS. Al-Tahrim: 8).
Bukanlah bertaubat jika seseorang berkata aku bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’alla atau hanya berkata ya Allah berikanlah taubat kepadaku sementara dirinya masih tetap tenggelam dalam kemaksiatan, dan bukan termasuk taubat jika seseorang hanya berkata bahwa dia telah bertaubat namun perilakunya  masih meremehkan kemaksiatan, dan tidak termasuk taubat orang yang hanya berkata taubat kepada Allah namun dirinya masih tetap kembali kepada perbuatan maksiat dan menyalahi perintah Allah Subhanahu wata’alla.
Wahai sekalian manusia bertaubatlah kepada Allah Subhanahu wata’alla sebelum pintu taubat tertutup dari kalian, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’alla masih menerima taubat seseorang selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan, namun apabila ruh sudah sampai di tenggorokan maka taubat tidak lagi diterima:
قال الله تعالى: ﴿إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَئِكَ يَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللهُ عَلِيمًا حَكِيما * وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا﴾
Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertobat sekarang" Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (QS. Al-Nisa’: 17-18).
Wahai sekalian kaum muslimin bersegeralah bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’alla sebab kalian tidak mengetahui kapankah mati menjemput kalian dan kalian juga tidak mengetahui kapan ajal akan mendatangi kalian.
قال الله تعالى: ﴿أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتا وَهُمْ نَائِمُونَ * أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ * أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾
Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu mata hari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.  (QS. Al-A’rof: 97-99).
Inilah yang dapat saya sampaikan, dan curahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah Subhanahu wata’alla.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites