::..selamat datang di blog kecil ini, semoga setiap tulisan yang tersedia disini, bisa memberikan manfaat yang positif untuk kalian.. terimakasih atas kunjungannya..::


8.23.2011

Sebuah Puisi Tentang Islam

Share


Hatiku menangis
Aku merasakan sakit yang mendalam

didalam hatiku saat ini.

Aku heran,

mengapa orang harus menyerang perdamaian?
Apakah mereka tidak tahu 

Islam adalah tentang sebuah perdamaian?

Kami bukan orang jahat,

Kami bukan perusak,
Kami bukan teroris
Aku bersumpah,

KAMI UMAT ISLAM MENCINTAI PERDAMAIAN..!!!!

Aku tidak tahu 

mengapa banyak orang
mencoba untuk memelintir kata-kata Quran?
padahal jelas tergambar firman Allah dalam Al-Qur'an :


  "Serulah (semua orang) ke jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan seruan yang indah,

dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik dan kerendahan hati:. 
Tuhanmu lebih mengetahui tentang siapa yang telah menyimpang dari jalan-Nya 
dan yang menerima petunjuk-Nya "(16:125 )

Pelukan Hangat

Share


Awan digantung rendah saat ini
Memberikan dunia sebuah pelukan hangat
Mungkin Allah membawa bagian dari surga 

sedikit lebih dekat dengan kami.
 
Awan abu-abu terlihat seolah-olah 

para malaikat telah menyebar sayap mereka melintasi langit.
Aku meraih langit 

berharap untuk menyentuh bagian dari surga.

Bersihkan Hati Dengan Taubat

Share


Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’alla Yang Maha Halus yang dengan kehalusan -Nya segala bencana akan sirna, Yang Maha Penyantun yang dengan kasih sayang -Nya segala nikmat dan kebaikan tercurah, dan dengan prasangka yang baik kepada -Nya segala kebaikan terjadi, dan dengan berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’alla segala kejahatan tersingkap, di antara orang yang berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’alla adalah;
قال الله تعالى: ﴿الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ * فَانقَلَبُواْ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُواْ رِضْوَانَ اللهِ وَاللهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ(
(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Ali Imron: 173-174).
Aku memuji Allah Subhanahu wata’alla Yang Maha Suci. Pujianku kepada Allah Subhanahu wata’alla terhadap nikmat -Nya. Sebab dengan menjalankan perintah -Nya dan  menjauhi larangan -Nya hati akan berjalan menggapai berbagai ilmu dan kebaikan, aku bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’alla karena diriku yang berserah diri kepada -Nya dengan sebaik-baik kepasrahan guna menghancurkan setiap godaan setan yang membangkang. Aku bersaksi bahwa  tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subhanahu wata’alla, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya, pada segala sesuatu terdapat tanda-tanda yang menegaskan bahwa Dia Maha Esa.
قال الله تعالى: ﴿مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِن ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾
“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah: 7.)
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan   -Nya, yang memiliki keturunan yang mulia yang menyebarkan aturan-aturan yang baik dalam meraih berbagai kebaikan, di mana bulan terpecah untuk membuktikan kebenaran risalahnya, benda-benda padat rindu kepada pribadinya, kerikil-kerikil kecil terdengar bertasbih pada telapak tangannya dan manusia ini memahami segala ucapannya, sungguh banyak mukjizat dan karomah yang dimilikinya.
Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan Rasul -Mu Muhammad Shalallahu,alaihi wa sallam, dan kepada para keluarga dan para shahabat beliau yang suci:
قال الله تعالى: ﴿الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴾
“…itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat -Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan lah mereka bertawakal”.(QS. Al-Anfal: 2).
Amma Ba’du. Wahai sekalian manusia bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wata’alla dengan sebenar-benar taqwa dan ikatlah diri kalian pada ajaran Islam dengan ikatan yang kuat:
قال الله تعالى: ﴿وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnyadan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali Imron: 133-134).
Wahai sekalian para hamba Allah! Sifat tamak telah dikalahkan jiwa sehingga membuatnya binasa, sementara hati telah dikuasai oleh dosa-dosa sehingga membuatnya menjadi menghitam, bersihkanlah kegelapan ini dengan bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’alla, taubat adalah pelita hati, bukalah pintu-pintu rahmat Allah dengan beristighfar kepada Allah Subhanahu wata’alla, sebab Dia lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Membuka jalan kebaikan, renungkanlah firman Allah:
قال الله تعالى: ﴿وَيُنَجِّي اللهُ الَّذِينَ اتَّقَوا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾
Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita. (QS. Al-Zumar: 61).
Dan renungkanlah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Celakalah orang yang mengahambakan dirinya pada uang dinar, celaka orang yang menghambakan dirinya pada uang dirham, celaka orang yang menghambakan dirinya pada pakaian beludru, celaka orang yang menghambakan dirinya pada kain halus (khamisah) jika diberi dia senang namun jika tidak diberi maka dia marah, celaka dan binasa, jika ia tertimpa musibah (tertusuk duria) maka tidak ada seorangpun yang menolongnya, dan beruntunglah seorang hamba yang mengambil kendali kudanya, rambutnya kusut dan kusam, kedua kakinya berlumpur, jika ditempatkan pada bagian penjagaan maka dia tetap menjalankan tugasnya dalam urusan penjagaan dan jika dia ditempatkan pada bagian belakang tentara maka dia menempatkan diri pada bagian belakang, jika dia meminta bantuan pertolongan dia tidak diberikan dan jika meminta izin maka dia tidak diizinkan”. HR. Bukhari.
Wahai sekalian manusia!. Sesungguhnya kalian tidak dituntut untuk meninggalkan dunia selamanya, sebab hal ini tidak mungkin, namun kalian hanya dituntut agar berlaku adil dalam menuntut dunia, di mana kalian meraihnya dengan cara yang mubah, tidak memalingkan kalian dari berzikir kepada Allah Subhanahu wata’alla dan taat kepada   -Nya. Tidak memalingkan kalian dari perintah Allah Subhanahu wata’alla dan jalan -Nya, akan tetapi kalian dianjurkan mencari rizki dengan cara yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’alla, yaitu berlaku jujur saat bergaul, menunaikan amanah, memberikan nasehat kepada manusia dan ikhlas semata-mata karena Allah Subhanahu wata’alla, dengannya kalian akan meraih kemenangan dunia dan akherat, dan renungkalah bagaimana akibat orang yang hanya ingin meraih dunia semata, bagaimanakah kesudahan mereka?. Renungkanlah firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:
قال الله تعالى: ﴿مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ * أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ﴾
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?. (QS. Hud: 15-16).
Dan renungkanlah akibat dan balasan orang yang  mencari dunia di samping menuntut kebaikan di akherat kelak, tidak meremehkan salah satu dari kebahagaiaan dunia dan akherat. Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman:
قال الله تعالى: ﴿مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ﴾
Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat. (QS. Al-Syura: 20).
Wahai hamba Allah Subhanahu wata’alla bertaqwalah kepada–Nya perbaikilah kerusakan amal dan hati kalian niscaya Allah memperbaiki keadaan kalian semua, sayangilah orang-orang yang lemah niscaya Allah Subhanahu wata’alla mengangkat derajat kalian, hiburlah orang yang fakir dan miskin niscaya Allah Subhanahu wata’alla meluaskan rizki kalian, cegahlah perbuatan maksiat orang-orang yang bodoh niscaya Allah Subhanahu wata’alla memberikan keberkahan pada amal kalian, barangsiapa yang menyayangi orang lain niscaya dia akan dikasih sayangi, barangsiapa yang berbuat zalim kepada orang lain maka dia akan dizalimi, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’alla menangguhkan balasan amal seseorang dan tidak meremehkannya dan barangsiapa yang menyia-nyiakan ketaatan maka akan menyesal dan penyesalan tidak akan memberikan manafaat apapun. Orang yang berniaga dengan amal shaleh maka dia pasti beruntung dan menang dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wata’alla dalam keadaan rahasia dan terang-terngan  maka dia dijaga dan selamat, dan Allah Subhanahu wata’alla bersama orang-orang yang jujur, jauhilah sikap melampaui batas, permusuhan, dengki dan hasad (Orang muslim yang sebenarnya adalah orang muslim yang lain merasa aman dari kejahatan lisan dan tangannya).
Ketahuilah bahwa orang yang dengki tidak pernah bisa meminpin, dia tidak mendapatkan dari hasadnya kecuali keresahan, kecemasan kebimbangan, siapakah yang mampu menghalangi nikmat Allah Subhanahu wata’alla yang telah ditetapkan bagi seseorang hamba? Dan siapakah yang menghalangi pemberian Allah Subhanahu wata’alla yang telah dibagi -Nya sesuai dengan kehendaki -Nya, yakinlah bahwa bejana itu akan mengeluarkan apa yang disimpannya, barangsiapa yang menggali lubang bagi saudaranya maka dia akan terperosok padanya, barangsiapa yang dijaga oleh Allah Subhanahu wata’alla maka dialah yang tertolong, dan barangsiapa yang diliputi oleh rahmat Allah Subhanahu wata’alla maka dialah orang yang terhibur dan setiap pelaku kebaikan dan keburukan akan mendapat balasannya masing-masing.
Semoga Allah Subhanahu wata’alla memberikan keberkahannya bagiku dan bagi kalian semua di dalam Al-Qur’an yang mulia, dan Allah Subhanahu wata’alla memberikan manfaat bagiku dan bagi kalian dengan ayat-ayat  Allah Yang Maha Bijaksana yang tertera di dalamnya. Hanya inilah yang bisa aku katakan dan aku memohon ampunan bagi diriku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin kepada Allah Subhanahu wata’alla yang Maha Mulia dari segala dosa. Mohonlah ampun kepada -Nya dan bertaubatlah kepada -Nya, sebab Dia adalah Zat Yang Pengampun lagi Maha Penyayang.

Khutbah kedua
Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’alla, Tuhan Yang menjadi raja dan Maha Pemberi, Yang Maha Penyayang dan Maha menerima taubat, yang telah menciptakan seluruh manusia dari tanah, dan memberikan kepada mereka apa yang menjadi penopang bagi mereka dalam menunaikan amanah berupa akal pikiran. Aku bersaksi tanpa ragu bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subhanahu wata’alla yang Maha Esa tiada sekutu bagi        -Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhamad adalah hamba dan utusan-Nya yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan peringatan bagi orang yang memiliki akal pikiran, semoga Allah Subhanahu wata’alla mencurahkan shalawat dan salam kepada para shahabat dan keluarganya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan kebaikan sampai hari kiamat.
Amma Ba’du. Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wata’alla dan bertaubatlah kepada Nya, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan dirinya. Mintalah ampunan Allah Subhanahu wata’alla dari segala dosa-dosa kalian sesungguhnya Allah Subhanahu wata’alla sebaik-baik yang menerima taubat. Bertaubatlah kepada Tuhanmu dengan penuh keikhlasan dengan meninggalkan segala kemaksiatan dan menyesal dengan perbuatan tersebut dan bertekad untuk tidak kembali melakukan kemaksiatan, inilah taubuat nasuha yang diperintahkan:
قال الله تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (QS. Al-Tahrim: 8).
Bukanlah bertaubat jika seseorang berkata aku bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’alla atau hanya berkata ya Allah berikanlah taubat kepadaku sementara dirinya masih tetap tenggelam dalam kemaksiatan, dan bukan termasuk taubat jika seseorang hanya berkata bahwa dia telah bertaubat namun perilakunya  masih meremehkan kemaksiatan, dan tidak termasuk taubat orang yang hanya berkata taubat kepada Allah namun dirinya masih tetap kembali kepada perbuatan maksiat dan menyalahi perintah Allah Subhanahu wata’alla.
Wahai sekalian manusia bertaubatlah kepada Allah Subhanahu wata’alla sebelum pintu taubat tertutup dari kalian, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’alla masih menerima taubat seseorang selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan, namun apabila ruh sudah sampai di tenggorokan maka taubat tidak lagi diterima:
قال الله تعالى: ﴿إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَئِكَ يَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللهُ عَلِيمًا حَكِيما * وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا﴾
Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertobat sekarang" Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (QS. Al-Nisa’: 17-18).
Wahai sekalian kaum muslimin bersegeralah bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’alla sebab kalian tidak mengetahui kapankah mati menjemput kalian dan kalian juga tidak mengetahui kapan ajal akan mendatangi kalian.
قال الله تعالى: ﴿أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتا وَهُمْ نَائِمُونَ * أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ * أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾
Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu mata hari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.  (QS. Al-A’rof: 97-99).
Inilah yang dapat saya sampaikan, dan curahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah Subhanahu wata’alla.

Kisah Pemuda lugu dan polos (Buah Taqwa kepada Allah)

Share
Jangan lupa membagikan artikel ini setelah membacanya





Ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang syaikh.
Setelah lama menuntut ilmu, sang syaikh menasihati dia dan teman-temannya, “Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain.
Sesungguhnya, seorang alim yang menadahkan tangannya kepada orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya.
Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing.  Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut.”

Maka, pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya bertanya, “Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?” Sambil bergetar ibunya menjawab, “Ayahmu sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayahmu?” Si pemuda ini terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak. Namun, akhirnya si ibu terpaksa angkat bicara juga, dengan nada jengkel dia berkata, “Ayahmu itu dulu seorang pencuri!”

Pemuda itu berkata, “Guruku memerintahkan kami -murid-muridnya- untuk bekerja seperti pekerjaan ayahnya dan dengan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut.”
Ibunya menyela, “Hai, apakah dalam pekerjaan mencuri itu ada ketakwaan?”
Kemudian anaknya yang begitu polos menjawab, “Ya, begitu kata guruku.”

Lalu dia pergi bertanya kepada orang-orang dan belajar bagaimana para pencuri itu melakukan aksinya. Sekarang dia mengetahui teknik mencuri. Inilah saatnya beraksi.
Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian shalat Isya’ dan menunggu sampai semua orang tidur. Sekarang dia keluar rumah untuk menjalankan profesi ayahnya, seperti perintah sang guru (syaikh).
Dimulailah dengan rumah tetangganya. Saat hendak masuk ke dalam rumah dia ingat pesan syaikhnya agar selalu bertakwa. Padahal mengganggu tetangga tidaklah termasuk takwa. Akhirnya, rumah tetangga itu di tinggalkannya.
Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya, “Ini rumah anak yatim, dan Allah memperingatkan agar kita tidak memakan harta anak yatim.”

Dia terus berjalan dan akhirnya tiba di rumah seorang pedagang kaya yang tidak ada penjaganya.
Orang-orang sudah tahu bahwa pedagang ini memiliki harta yang melebihi kebutuhannya. “Ha, di sini,” gumamnya. Pemuda tadi memulai aksinya. Dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang disiapkannya. Setelah berhasil masuk, rumah itu ternyata besar dan banyak kamarnya. Dia berkeliling di dalam rumah, sampai menemukan tempat penyimpanan harta.
Dia membuka sebuah kotak, didapatinya emas, perak dan uang tunai dalam jumlah yang banyak.
Dia tergoda untuk mengambilnya.
Lalu dia berkata, “Eh, jangan, syaikhku berpesan agar aku selalu bertakwa.
Barangkali pedagang ini belum mengeluarkan zakat hartanya.
Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu.”

Dia mengambil buku-buku catatan di situ dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya.
Sambil membuka lembaran buku-buku itu dia menghitung.
Dia memang pandai berhitung dan berpengalaman dalam pembukuan.
Dia hitung semua harta yang ada dan memperkirakan berapa zakatnya.
Kemudian dia pisahkan harta yang akan dizakatkan.
Dia masih terus menghitung dan menghabiskan waktu berjam-jam.
Saat menoleh, dia lihat fajar telah menyingsing.
Dia berbicara sendiri, “Ingat takwa kepada Allah! Kau harus melaksanakan shalat dulu!”
Kemudian dia keluar menuju ruang tengah rumah, lalu berwudhu di bak air untuk selanjutnya melakukan shalat sunnah.

Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun.
Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala.
Dia lihat pula kotak hartanya dalam keadaan terbuka dan ada orang sedang melakukan shalat.
Isterinya bertanya, “Apa ini?”
Dijawab suaminya, “Demi Allah, aku juga tidak tahu.”
Lalu dia menghampiri pencuri itu, “Kurang ajar, siapa kau dan ada apa ini?”
Si pencuri berkata, “Shalat dulu, baru bicara. Ayo, pergilah berwudhu, lalu shalat bersama. Tuan rumahlah yang berhak jadi imam.”

Karena khawatir pencuri itu membawa senjata si tuan rumah menuruti kehendaknya.
Tetapi –wallahu a’lam- bagaimana dia bisa shalat.
Selesai shalat dia bertanya, “Sekarang, coba ceritakan, siapa kau dan apa urusanmu?”
Dia menjawab, “Saya ini pencuri.”
"Lalu apa yang kau perbuat dengan buku-buku catatanku itu?”,
tanya tuan rumah lagi.
Si pencuri menjawab, “Aku menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun.
Sekarang aku sudah menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberikannya pada orang yang berhak.”
Hampir saja tuan rumah itu dibuat gila karena terlalu keheranan.
Lalu dia berkata, “Hai, ada apa denganmu sebenarnya.  Apa kau ini gila?”

Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal.
Dan setelah tuan rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan, serta kepandaiannya dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, juga mengetahui manfaat zakat, dia pergi menemui isterinya.
Mereka berdua dikaruniai seorang puteri. Setelah keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, kemudian berkata, “Bagaimana sekiranya kalau kau aku nikahkan dengan puteriku. Aku akan angkat engkau menjadi sekretaris dan juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini. Kau kujadikan mitra bisnisku.”
Ia menjawab, “Aku setuju.”
Di pagi hari itu pula sang tuan rumah memanggil para saksi untuk acara akad nikah puterinya.

Sumber: Kisah-Kisah Nyata Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi`in, Orang-orang Dulu dan Sekarang
 Karya Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi, penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc.

Refleksi Kehidupan Salafus-Shaleh Dalam Berinteraksi Dengan Ayat-ayat Al-Qur'an

Share


Sungguh generasi pendahulu kita dengan sadar telah menikmati sensasi ayat-ayat al-Quran dan sunah Nabi.  Mereka mengamalkannya dalam praktek keseharian. Kehidupan di luar masjid tidak membuat mereka tidak menjalankannya. Mereka tidak memisahkan dan menjadikan aktivitas kehidupan amaliah (duniawi) sebagai satu sisi dan agama pada sisi yang lain, tetapi keduanya saling melengkapi. Interaksi mereka dengan ayat-ayat qurâni dan sunah nawabi nampak dalam aktivitas gerak dan diam mereka.
Abdullah Ibn Umar respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (QS.Ali Imran:92)"

Ketika mendapatkan sesuatu yang amat disukainya pada hartanya, serta-merta ia jadikan harta itu sebagai taqarub (pendekat) kepada Allah subhanahu wa ta'alaa.
Budak-budak Ibnu Umar menyadari hal itu. Hingga salah seorang di antara mereka ada yang sengaja berdiam diri di masjid. Ketika Ibnu Umar melihatnya dalam keadaan demikian, diapun memerdekakan budak itu. Atas sikapnya itu, sebagian orang ada yang berkata kepadanya,
“Budak-budak itu hanya menipumu!”
Ibnu Umar menjawab:
“Siapa yang menipu kami untuk Allah, kami akan membiarkan seolah kami tertipu untuknya.” .
Ibnu Umar memiliki budak perempuan yang begitu disayanginya. Tetapi diapun memerdekakan budak itu dan menikahkannya dengan Nâfi’, budak yang juga telah dimerdekakannya sebelumnya.
Ibnu Umar berkata:
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'alaa berfirman:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (QS.Ali Imran:92)

Pernah Ibnu Umar membeli unta jantan dan merasa takjub ketika menungganginya. Diapun berkata kepada ajudannya:
“Wahai Nâfi’, jadikan unta ini sebagai sedekah.”
Pada kesempatan yang lain, Ibnu Ja’far (seorang saudagar) ingin membeli Nafi’, budak lelaki Ibnu Umar sebesar 10.000 dirham atau lebih dari itu. Ibnu Umar berkata:
“Aku telah memerdekakannya, dia bebas untuk Allah.”
Pada waktu yang lain Ibnu Umar membeli seorang budak dengan harga 40.000 dirham kemudian dimerdekakannya. Setelah dimerdekakan budak itupun berkata:
“Wahai tuanku, engkau telah memerdekakanku, maka berilah aku sesuatu agar aku bisa hidup.”
Ibnu Umar pun memberinya 40.000 dirham.
Pada waktu yang lain Ibnu Umar membeli 5 orang budak. Manakala dia sedang shalat kelima budak itu turut shalat di belakangnya. Ibnu Umarpun bertanya kepada mereka:
“Untuk siapa kalian melakukan shalat ini?”
“Untuk Allah!” Jawab mereka.
Mendengar jawaban mereka Ibnu Umar berkata:
“Kalian merdeka untuk Dia yang kalian shalat kepada-Nya.” Ibnu Umarpun memerdekakan mereka semua.
[Al-bidayah wa an-Nihayah 6/9]
Ayat:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS.Ali Imran:92)

Jika dipraktekkan di era kita sekarang ini, maka tidak akan lagi ditemukan seorang miskin atau terlantar pun di tengah masyarakat muslim, walau hanya 10% saja dari mereka yang mempraktekkannya.
*****
Ali Ibn al-Husain respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa:

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS.Ali Imran:134)

Abdurrazzak berkata,
“Budak perempuan Ali Ibn al-Husain menuangkan air kepada Ali untuk berwudhu, tetapi bejana yang dipegangnya terlepas dari tangannya sehingga mengenai wajah Ali. Diapun mendongak (menatap tajam) kepada budaknya itu. Maka berkatalah budak perempuan itu menyitir ayat dalam surat Ali Imran:
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'alaa berfirman:
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya..”
“Aku telah menahan amarahku.” Jawab Ali.
“...dan memaafkan (kesalahan) orang...”
lanjut budak perempuan itu.
“Semoga Allah mengampunimu.” Jawab Ali.
“...Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan...”
Mengakhiri ayat 134 dari surat Ali Imran yang dibacanya.
“Kini engkau aku merdekakan semata karena Allah.” Ungkap Ali.
[Al-Mushannif Abdurrazzaq no.8317]

* * * * *
Umar Ibn Abdul Aziz respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa:

“Sesungguhnya pelindungku ialahlah yang telah menurunkan Al kitab (Al-Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (QS.al-A’râf: 196)

Dikatakan kepada Umar Ibn Abdul Aziz[1] ketika berada dalam pembaringan menjelang kematiannya:
“Mereka anak-anakmu  (yang berjumlah 12), tidakkah engkau berwasiat kepada mereka dengan sesuatu, sesungguhnya mereka itu fakir.”
Umar menjawab:
“Sesungguhnya wali (pengayom)ku adalah Allah yang telah menurunkan al-kitab (al-Quran) dan dia pula yang akan mengayomi orang-orang yang saleh. Demi Allah, aku tidak akan memberikan hak orang lain kepada mereka. Mereka ada di antara dua keadaan orang; orang yang saleh, maka Allah akan menjadi pengayomnya, atau bukan orang saleh, maka aku tidak akan membantu kefasikan (perbuatan dosanya) dengan memberinya harta. Aku sendiri tidak peduli pada posisi mana pengakhiran mereka. Aku tidak akan meninggalkan untuk mereka sesuatu yang dapat digunakan bermaksiat kepada Allah sehingga aku menjadi sekutunya setelah kematianku.”
Kemudian dia memanggil anak-anaknya untuk mengucapkan perpisahan seraya berpesan dengan apa yang telah menjadi prinsipnya itu, lalu berkata:
“Pergilah kalian semua, Allah akan menjaga kalian dan akan memperbaiki keadaan kalian setelah ini. ”  Pesan Umar.
Orang-orang berkata (setelah kematian Umar):
“Kami mendapati di antara anak-anak Umar Ibn Abdul Aziz ada yang membawa 80 ekor kuda untuk digunakan berperang dijalan Allah. Sedangkan di antara putra Sulaiman Ibn Abdul Mâlik[2], meskipun banyak harta yang ditinggalkan untuk anak-anaknya (tapi pada akhirnya) datang dan meminta kepada anak-anak Umar Ibn Abdul Aziz. Yang demikian karena Umar mewakilkan anaknya kepada Allah U sedangkan Sulaiman dan penguasa lainnya menggantungkan anak-anak mereka pada apa yang diberikan, sehingga habis dan lenyaplah harta itu untuk memuaskan hawa nafsu anak-anak mereka.
[kitab: Al-Bidayah wa an-Nihaya 9/218.]
Dengan satu ayat Umar Ibn Abdul Aziz mengejawantahkan ayat tersebut dalam urusan hak anak-anaknya sehingga Allah jaga mereka dengan izin-Nya. Bahkan bukan hanya itu, Allah gabungkan untuk mereka kebaikan dunia dan akhirat.
Bukankah sudah seharusnya kaum muslimin menyadari betapa pentingnya mendidik anak keturunan yang sesuai dengan sudut pandang Islam.

* * * * *
Penyair pun memiliki bagian dalam memahami al-Quran dan sunah serta bagaimana mereka berinteraksi dengan nas-nas keduanya dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari.
Farzadaq, seorang penyair respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa:

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu.” (QS.al-Anbiya: 79)

Dikabarkan bahwa al-Walid[3] mengirim utusan kepada raja Romawi meminta dikirimi ahli-ahli bangunan, baik ahli marmer dan yang lainnya, untuk membantu membuatkan bangunan Masjid Umawi di Damaskus sesuai keinginannya. Maka raja Romawi pun mengirim banyak ahli bangunan sekitar 200 tukang seraya menulis surat kepadanya, yang isinya:
“Jika ayahmu tahu apa yang kamu lakukan dan membiarkan saja sungguh itu adalah cela bagimu. Jika dia tidak memahaminya sedang engkau memahaminya, sungguh itu adalah cela baginya.”
Ketika kiriman raja Romawi sampai kepada Walid, dia ingin membalas surat itu. Maka berkumpullah orang-orang untuk membahasnya. Di antara mereka ada Farzadaq, seorang penyair, dia berkata:
“Aku yang akan menjawabnya dari kitabullah, wahai Amirul mukminin."
“Apa itu?” Tanya Walid
“Allah subhanahu wa ta'alaa berfirman:

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu.” (QS.al-Anbiya:79)

Sulaiman adalah putra Daud. Allah memberinya kefahaman apa yang tidak diberikan kepada ayahnya.” Jelas Farzadaq.
Jawaban Farzadaq membuat Walid salut. Maka Walid pun mengirim jawaban itu kepada Raja Romawi. Farzadak mengatakan hal itu dalam syairnya:
Aku pisahkan antara Nasrani di gereja-gereja mereka
Antara ahli ibadah, tukang sihir dan ternak
Mereka semua jika sembahyang wajahnya berbeda-beda
Ada yang sujud kepada Allah atau kepada patung
Bagaimana mungkin berkumpul pemukul lonceng ahli salib
Dengan para pembaca al-Quran yang tidak tidur
Aku pahami masalahannya seperti pemahaman Daud dan Sulaiman
Yang mengadili orang-orang pada kebun dan ternak
....
[al-Bidayah wa an-Nihayah 9/153]

* * * * *
Abdul Malik bin Marwan, yang telah banyak menaklukkan negeri-negeri  di berbagai penjuru dan menjadikannya daulah islamiah pada zamannya, ketika terbaring menyongsong kematiannya respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa:

“Dan Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya.” (QS. Al-An’âm: 94)

Abu Mashar berkata:
“Ditanyakan kepada Abdul Malik di saat sakit menjelang kematiannya:
“Apa yang engkau rasakan?”
“Aku mendapatkan diriku sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta'alaa firmankan:

“Dan Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah)." (QS. Al-An’âm: 94)

“Seandainya aku seorang tukang cuci yang hidup dari hasil tanganku sendiri.” Sesalnya.
Ketika berita menjelang kematian Abdul Malik tersebut sampai kepada Sa’id Ibn al-Musayib[4], dia berkata:
“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan pada akhir kematiannya mendekat kepada kami (kepada akhirat), bukan kita yang mendekat kepadanya (kepada dunia).”
[Lihat: al-Kamil fi at-Tarikh, peristiwa tahun 86H jilid 3]

* * * * *
Kepada para hakim dari umat ini –kebanyakan mereka menjauhi kebenaran dan berpaling- aku beritakan apa yang dilakukan oleh al-Mahdi, khalifah al-Abâsi yang berhukum dengan adil dan respek dengan ayat al-Quran yang mulia.
Al-Khatib meriwayatkan:
"Seorang lelaki meminta bantuan kepada al-Mahdi untuk mengadili dirinya dan lawan sengketanya. Al-Mahdipun mengadili mereka dengan adil. Sehingga lelaki itupun memuji dalam bait-bait syair:
Engkau mengadilinya dan membuat keputusan
Seperti terang benderangnya bulan purnama
Tidak menerima suap dalam pengadilan hukummu
Tidak peduli kekecewaan mereka yang merugi
Al-Mahdi berkata mengomentari bait-bait syair lelaki itu:
“Adapun engkau wahai kisanak, semoga Allah menjadikan baik ucapanmu dan aku tidak terlena dengan apa yang engkau katakan. Adapun aku, tidaklah aku duduk di majelisku ini hingga membaca firman Allah subhanahu wa ta'alaa:
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS.al-Anbiya:47)
Orang-orang yang ada di majelis menangis. Belum pernah terlihat orang menangis lebih banyak dari hari itu sebelumnya.
[Lihat kitab: al-Kâmil fi at-Târikh, kejadian tahun 256H jilid 4]

* * * * *
Maimun bin Mahrân respek dengan ayat dari kitab Allah subhanahu wa ta'alaa.
Umar, putra Maimun berkata:
“Aku keluar bersama ayahku menyusuri bangunan dan jalan-jalan Bashroh. Ketika melewati parit, syaikh (ayahku) tidak dapat melampauinya, sehingga akupun merebahkan tubuhku agar beliau dapat melintas menaikiku. Diapun melintas menaiki punggungku, setelah itu akupun berdiri dan memegang tangannya hingga tibalah kami di rumah al-Hasan. Akupun mengetuk pintu rumah al-Hasan. Tidak lama berselang keluarlah seorang budak wanita dan berkata:
“Siapa yang datang?”
“Ini adalah Maimun Ibn Mahran, ingin bertemu dengan al-Hasan.” Jawabku.
“Apakah Maimun juru tulis (sekretaris) Umar Ibn Abdul Aziz?!” tanyanya lagi.
“Ya.” Jawabku lagi.
“Alangkah menyedihkannya, engkau masih hidup pada zaman yang penuh dengan keburukan sekarang ini.”  Ujar budak wanita itu.
Syaikh menangis mendengarnya, hingga al-Hasanpun keluar karena mendengar tangisan itu, lalu mereka saling berangkulan, kemudian masuk. Maimun bekata:
“Wahai Abu Sa’id[5], sungguh aku galau dengan kerasnya hatiku, karenanya lembutkanlah ia.”
Al-Hasanpun membaca firman Allah subhanahu wa ta'alaa:

“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka. Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (QS.as-Syu’arâ’: 205-207)

Mendengar itu Maimun langsung jatuh pingsan. Aku melihat kedua kakinya saling bergesekan seperti biri-biri yang disembelih. Keadaan seperti itu berlangsung cukup lama. Kemudian datanglah budak perempuan tadi dan berkata:
“Kalian telah membuat al-Hasan lelah. Tinggalkanlah dia agar beristirahat.”
Akupun memegang tangan ayahku lalu keluar. Aku katakan kepada ayahku:
“Wahai ayah, apakah dia al-Hasan.”
“Ya.” Jawab ayahku.
“Aku mengira ia lebih hebat dari ini[6].”
Ayahku menepuk dadaku seraya berkata:
“Wahai anakku, telah dibacakan kepada kita ayat yang jika engkau memahaminya dengan hatimu sungguh engkau akan merasakan adanya kepedihan.”
[Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah 9/327]


* * * * *
Al-Hajjaj Ibn Yusuf ats-Tsaqofi adalah sosok yang zalim dan bengis. Hanya saja dia begitu sensitif dengan ayat-ayat al-Quran, respek dan mendahulukan firman Allah U dibanding perkataan yang lain.
Al-Haitsam Ibn Adi berkata:
“Datang seorang lelaki kepada al-Hajjaj dan berkata:
“Sesungguhnya saudara laki-lakiku keluar bersama Ibnu al-Asy’ab[7], sehingga namaku dihapus dari daftar, tidak mendapat bantuan dan tempat tinggalku digusur.”
Al-Hajjaj berkata:
“Tidakkah engkau mendengar ungkapan syair:

Harapanmu kepada orang yang menyakitimu
Tak ubahnya menjadikan kesehatan yang berkah menjadi kusta
Bisa jadi seorang itu di hukum karena kesalahan orang dekatnya
Sedangkan pelakunya selamat dari dosa yang dilakukannya

Lelaki itupun menjawab:
"Wahai amir, sungguh aku mendengar firman Allah I tidak seperti syair yang telah engkau bacakan tadi, dan firman Allah I lebih benar.”
"Apa yang Allah firmankan?" Tanya al-Hajjaj.
Lelaki itu membaca firman Allah subhanahu wa ta'alaa dalam surat Yusuf:

"Mereka berkata: "Wahai Al-Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik". Yusuf berkata: "Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, Maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim". (QS. Yusuf: 78-79)

Al-Hajjaj langsung merespons firman Allah itu dan berkata kepada bawahannya:
"Wahai ghulam, masukkan kembali namanya ke dalam daftar, bangun kembali tempat tinggalnya dan beri dia apa yang berhak diterimanya. Panggil juru penyeru untuk menyerukan bahwa Allah-lah yang benar dan penyair itu salah."
[ Al-Bidayah wa An-Nihayah  9/130]

* * * * *
Akan tetapi respons yang menjurus pada kebinasaan jiwa adalah tertolak. Sekalipun dalam catatan sejarah kita ada orang-orang yang begitu sensitif dan merespons ayat-ayat al-Quran sehingga menjadi penutup kehidupan mereka. Yang demikian itu menyelisihi sunah Nabi sallaahu alayhi wassalam.
Zurarah Ibn Aufa Ibn Hajib al-Âmiri adalah hakim di Bashroh. Dia termasuk ulama besar Bashrah. Kisah mengenai riwayat dirinya banyak sekali. Suatu saat ketika mengimami shalat subuh dia membaca surat al-Mudatsir. Ketika sampai kepada ayat:

"Apabila ditiup sangkakala.." (QS.al-Mudatsir: 8 )

Seketika itu pula ia menemui ajalnya.
[Kitab: Al-'Ibar Fi khabarin man ghabar (Pelajaran mengenai berita bagi yang tidak tahu)]

* * * * *

Ya'kub al-Kûfi seorang yang zuhud (sederhana) lagi ahli ibadah juga meninggal ketika mendengarkan ayat al-Quran.
Ali Ibn al-Muwaffaq berkata bahwa Manshur Ibn Ammar berkata:
"Pada suatu malam aku keluar (ke masjid) yang aku kira waktu subuh sudah masuk, tapi ternyata masih malam. Akupun bergegas duduk di pintu kecil masjid. Ternyata ada seorang pemuda yang tengah menangis sambil berujar:

"Demi kemuliaan dan keagungan-Mu, bukan maksud memaksiati-Mu ingin menyelisihi-Mu, akan tetapi jiwaku memaksaku, kesusahanku mengalahkanku dan tabir dosaku yang Kau tutupi telah menipuku. Sekarang siapa yang akan menyelamatkanku dari azab-Mu. Tali siapa yang dapat menghubungkanku kepada-Mu jika Engkau telah memutus tali penghubung itu dariku. Oh, sesal atas apa yang telah berlalu dari hari-hari memaksiati Tuhan-ku. Celaka aku, sudah berapa kali aku bertobat dan berapa kali pula aku mengulanginya. Kini telah tiba saatnya bagiku untuk malu kepada Tuhan-ku subhanahu wa ta'alaa."
Mendengar ujaran pemuda itu spontan Manshur berkata:
"Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS.at-Tahrim: 6)
Selesai itu aku mendengar pekikan dan kepanikan yang sangat. Tapi kemudian aku meniggalkan tempat itu untuk satu keperluan. Ketika kembali dan melintasi pintu itu aku lihat sesosok jenazah tergolek di sana. Ketika aku tanyakan jenazah siapakah itu, ternyata pemuda tadi telah wafat setelah mendengar ayat yang aku bacakan."
[kitab Al-Bidâyah wa an-Nihâyah 10/185]
* * * * *
Nabi sendiri ketika mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya, beliau tersentuh dan respek sehingga keluarlah air matanya dan menangis, tetapi tidak lebih dari itu, selain juga semakin bertambah takut, khawatir, harap dan tunduknya kepada Tuhan-nya Y. Adapun peristiwa-peristiwa ganjil yang terjadi dalam catatan sejarah umat ini, di mana mereka meninggal setelah mendengar ayat-ayat al-Quran adalah menyelisihi manhajul islam (metodologi islam).
* * * * *
Sa'id Ibn Abi Waqqôs sang penakluk negeri-negeri, yang di antaranya adalah kekaisaran Faris[8]. Ketika mereka berhasil merebut istana, dia menjadikan majelis istana sebagai mushola (tempat shalat). Ketika memasukinya ia membaca firman Allah:

"Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan. Dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah. Dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah. dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh."
(QS. Ad-Dukhôn: 25-29)

Aku katakan kepada hakim-hakim kaum muslimin; kapan kita memasuk Paris, Wina, Wasingthon dan London seraya mengatakan:

"Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan. Dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah. Dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah. dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh." (QS. Ad-Dukhôn: 25-29)

Mereka adalah generasi yang menaklukkan dunia dengan segala isinya. Dahulu al-Quran dan sunah mengalir dalam darah mereka, yang bercampur dengan daging dan lemak. Adapun sekarang, engkau tidak mendapati seorang hakim atau terpidana pun –selain yang dirahmati Allah- paham terhadap kitab Allah (al-Quran) atau respek dengan suber hukum itu dalam praktek kehidupan mereka. Innalillah wa inna ilaihi rojiun.
Aku meminta kepada Allah yang Mahaagung, Tuhan Arsy yang agung agar mengutus kepada kita manusia-manusia teladan seperti mereka, yang akan mengembalikan kemuliaan yang telah kita abaikan, dan memudahkan tegaknya daulah islamiah di muka bumi.

Wallahu A'lam.

Imâd Hasan Abu al-‘Ainain

[1] Khalifah Umawiah (pemimpin pemerintahahan Islam) pada tahun 99H -101H-pent.

[2] Khalifah Umawiah (pemimpin pemerintahahan Islam) pada tahun 96H-99H -pent.

[3] Al-Walid putra dari Abdul Malik Ibn Marwan, salah satu khalifah Umawiah pada tahun 73H-86H.

[4] Salah seorang ulama besar pada masanya.

[5] Kunyah atau panggilan dari al-Hasan, ulama besar di masa itu dari generasi Atba At-Tabi’in.

[6] Maksudnya bahwa sebagai seorang ulama al-Hasan tidak banyak bicara saat kunjungan mereka, tetapi hanya membacakan beberapa ayat al-Quran saja.

[7] Yang dianggap berseberangan dengan penguasa -pent.

[8] Negara Iran saat ini.

Wallaahu a'lam

sumber : ILoveAllaah.com Indonesia

Cinta Sejati

Share

Cinta sejati adalah api yang suci
Yang membara abadi,
dan tidak ada yang dapat meredupkan
cahaya istimewa ini...

Cinta sejati berbicara dengan kehalusan tutur,
mendengar dengan kelembutan pendengaran,
memberi dengan ketulusan jiwa,
Dan menghapuskan semua keresahan yang ada.

Cinta sejati tidak memberikan tuntutan,
tidak mengikat dengan aturan insani,
dan cinta sejati
hanya memberikan sentuhan kelembutan,
dan mampu meluluhkan hati
yang dipenuhi angkara.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites