::..selamat datang di blog kecil ini, semoga setiap tulisan yang tersedia disini, bisa memberikan manfaat yang positif untuk kalian.. terimakasih atas kunjungannya..::


10.10.2011

Romansa Cinta

Share

Dengan danau dan kehangatan udara,
ku gerakkan jemariku disela rambutmu,
Ke dalam mata masing-masing,
kita diam-diam saling menatap,
Sebuah ciuman kecil
mengikuti gerak jemari dan mataku.

sayang,
kita sedang berada dalam jalinan cinta yang indah,
tidak ada yang bisa menghujat kita,
karena kita adalah insan yang saling mencinta.

10.07.2011

Janjiku : Aku Disini Untukmu...!!!

Share


Jantungku berdetak lebih kencang setiap detik
Kau telah memberikan arti bagi jiwaku,
Membuat aku menyadari apa itu cinta
Denganmu, aku sekarang utuh.

Bunga-bunga ini mekar bersemi untukmu,
Pada hari-hari yang istimewa,
di setiap pagi yang sangat indah
Hanya untuk memberitahumu,
betapa aku mencintaimu
Dan apa pun yang terjadi,
aku akan tetap disini,hanya untukmu.

kau tidak akan pernah sendirian
menggantungkan harapan
untuk menemukan orang yang sempurna,
karena aku disini untukmu,
melalui desau angin,
laksana hembusan napas insan bernyawa,
Dan aku tidak akan pernah mengucapkan
selamat tinggal padamu.

Aku akan menjadi bahu
saat kau menangis dan berduka,
Aku akan di sini
ketika tidak ada satu orang pun di sisimu,
Aku akan mengubah hari-harimu,
menjadi lebih bercahaya dan bermakna.
Selamanya dan selalu,
Aku berjanji padamu.

Melatih Emosi Anak, Maksimalkan potensi

Share


Seorang anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik tentu karena peran orang tua dan lingkungan sekitarnya. Namun, kebebasan seorang anak untuk berekspresi kadang terhambat lantaran anak-- terlebih laki-laki-- sering dilabelisasi terhadap sosok yang harus kuat. Tidak boleh menangis.

Padahal, jenis emosi baik senang, sedih, bangga, haru, dan jijik itu semua perasaan yang baik laki-laki maupun perempuan boleh mengekspresikannya. Demikian penuturan Fadhilah Suralaga, M.Psi,  Pembantu Dekan (Pudek) Bidang Akademik Fakultas Psikologi UIN Jakarta. Lebih lanjut Pudek I yang juga merangkap dosen psikologi pendidikan UIN Jakarta ini menegaskan bahwa pada hakikatnya perempuan dan laki-laki adalah sama.

"Pada psikologi perkembangan, dapat dibuktikan bahwa laki-laki dan perempuan pada hakikatnya sama. Namun, karena bentuk fisik yang berbeda, maka peranan pun berbeda," ujar Fadhilah.

Dalam psikologi perkembangan, kata Fadhilah, akan pula terbukti bahwa laki-laki yang dilabelisasi sebagai sosok yang kuat, berani dan tangguh tidak semua seperti itu. "Sebaliknya, perempuan yang dianggap sensitif, mudah menangis, terlalu berperasaan, pemalu, tidak semua juga seperti itu," ujarnya.
Oleh karenanya, lanjut Fadhilah, kebebasan berekspresi adalah bawaan yang memang idealnya tak boleh ditahan. "Sebab, jika ditahan, maka fungsi-fungsi emosional tidak berjalan secara baik," katanya.

Sebaiknya pula, ujar Fadhilah, sebagai orang tua yang baik dan mengenal perkembangan emosi anak, label stereotipe pada laki-laki yang sering dianjurkan untuk tidak menangis (cengeng- red) sebaiknya tidak terus dipraktikkan. "Pembinaan emosi saat mencapai kematangan emosi perlu dikenali kepada anak-anak sejak dini. Sehingga, emosi tidak boleh ditahan," ungkapnya.

Menurut Fadhilah, tumbuh kembang anak akan berkembang dengan baik saat mereka dikenali beberapa jenis emosi. Setidaknya, ada empat langkah agar emosi anak dapat berkembang dengan baik.

Pertama, kenali jenis-jenis emosi pada anak. "Mengenali jenis emosi pada anak penting. Sehingga pada akhirnya, si anak akan tahu benar kapan ia sedih, senang, murung, jijik, dan lain sebagainya,'' jelasnya.

Selain memperkenalkan jenis emosi kepada anak, langkah kedua adalah mengajarkan mereka untuk mengelola emosinya. "Langkah kedua ini penting, agar anak tersebut mampu mengekspresikan emosinya dengan baik," katanya.

Ketiga, setelah si anak diberikan pemahaman dan pengelolaan emosi ialah ajari mereka untuk memahami emosi orang lain. "Pada tahap ini, mereka akan paham kondisi seseorang saat sedang marah karena ia pun pernah mengalami hal tersebut. Mereka tidak akan tahu seseorang sedang marah, jika ia tidak pernah mengalaminya," ungkapnya.

Terakhir, setelah semua tahapan emosi sudah dikenali pada anak, selanjutnya adalah ajari mereka untuk bersedia berkorban untuk orang lain. "Tahap terakhir ini juga penting karena dapat melahirkan empati terhadap orang lain," tandasnya. (fn/cy)

sumber : suaramedia.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites